the chef

Foto saya
yogyakarta, Indonesia
ehmmm....uhmmmm....erggghhh.....(rethinking)...

Rabu, 07 Desember 2011

bring me to life

selasa, 8 november 2011

jam 8:57 malam

Ini adalah masalah cara pandang dan sikap hidup. cara individu memandang peristiwa-peristiwa dalam kehidupannya dan mewujudkannya kedalam sikap-sikap hidup. Pengalaman hidup seseoranglah yang akan menunjukkan seberapa dalamnya cara pandang dan sikap hidup individu. Oleh karenanya mengapa individu satu dengan individu yang lain mempunyai banyak perbedaan dalam cara memandang dan mensikapi sesuatu hal. Karena pada kenyataannya, pengalaman hidup seseorang tidaklah sama. Semakin banyak peristiwa yang dialami oleh individu, semakin membuat individu tersebut membuka diri dan belajar memahami peristiwa demi peristiwa, karenanya pula cara pandang individu terhadap sesuatu hal akan terus berubah. Baik cara pandang maupun sikap hidup, keduanya akan selalu berbanding lurus perkembangannya terhadap pengalaman hidup.

Namun, saya pun menyadari bahwa pernyataan saya diatas tidaklah seratus persen merupakan sebuah kebenaran. Masih banyak factor yang membuat diri seseorang menjadi tidak berkembang. Ada sebagian individu yang walaupun telah mengalami begitu banyak peristiwa dan pengalaman hidup, baik menyakitkan; mengecewakan; dan membahagiakan, tidak mampu memberikan perubahan yang signifikan terhadap cara pandang dan sikap hidup dalam dirinya. Bahkan mungkin bisa saja dalam kondisi demikian, pengalaman dan peristiwa hidup seseorang akan berbanding terbalik dengan cara pandang dan sikap hidup. Jika ada seorang individu saja mengajukan pertanyaan kepada saya, kenapa hal tersebut dapat terjadi? Saya sendiri akan mengerutkan kening dan berfikir sejenak. Mengapa ya?

Pertanyaan demikian membuat saya bersepekulasi, mengira-ira jawabannya. Bisa jadi memang karena individu tersebut menolak belajar memahami suatu peristiwa dalam hidupnya karena individu seperti ini merasa nyaman dengan keadaan dirinya baik keadaan fisik maupun psikisnya. Mekanisme mempertahankan diri pada titik nyaman dalam perkembangan jiwanya. Sehingga ketika terjadi suatu peristiwa dalam kehidupannya, rata-rata individu seperti ini akan mencari kenyamanan dengan mempertahankan kondisi psikis dan sikapnya. Karena kenyamanan inilah kecenderungan yang muncul adalah mencari dukungan akan cara pandang dan sikap yang dipertahankannya kepada pihak lain, sehingga kondisi nyaman tersebut dapat tetap tertahankan, tanpa harus merubah cara pandang dan sikap yang cenderung menyakiti.

Kemungkinan lainnya adalah keengganan serta rasa takut akan perasaan sakit, kecewa atau terlalu euphoria dengan sebuah peristiwa membahagiakan. Individu terutama manusia akan cenderung mempertahankan diri ataupun melindungi dirinya dari perasaan tidak menyenangkan. Kemampuan mekanisme pertahanan diri yang sangat alamiah. Hal tersebut membuat diri individu memproteksi dirinya, baik secara psikis maupun fisik, terhadap peristiwa tersebut. Perasaan takut terluka, takut sedih, merasa teraniaya, merasa tidak ikhlas, ataupun energi-energi negative lainnya tersebut yang sebenarnya membuat diri individu menjadi tidak memahami mengapa peristiwa-peristiwa tersebut dialami. Atau suatu keadaan nyaman, membahagiakan dan menyenangkan, dapat membuat individu merasa enggan berlalu dari peristiwa menyenangkan tersebut. Euphoria perasaan bahagia yang membuat individu merasa takut kehilangan, takut kesepian, ataupun takut tersakiti. Energi-energi positif yang dirasakan secara berlebihan pun mampu membuat individu tersebut tidak berkembang. Jiwa dan alam pikirnya menjadi stagnan. Padahal kedua dimensi tersebut merupakan dimensi yang dinamis. Selalu berkembang seiring dengan peristiwa dan pengalaman hidup seorang individu.

Dengan adanya kenyataan seperti tersebut diatas membuat saya selalu membangkitkan kesadaran saya sepenuhnya, bahwa setiap orang memandang sesuatu kemudian memunculkan sikapnya terhadap sesuatu tersebut dengan cara dan pola yang berbeda-beda. Tidak pernah ada sebuah hal yang objektif, karena sesungguhnya keobjektifan itu bersifat tidak pasti. Dan kalau boleh berandai-andai, saya selalu membayangkan bertemu dengan sekelompok besar individu yang memandang sesuatu peristiwa dengan bijak. Merenungkan setiap kejadian dan menginternalkan ke dalam dirinya. Berbicara dengan diri sendiri. Mencoba menelaah setiap perkataan dan sikap hidupnya terhadap peristiwa yang telah dilalui, kemudian memberikan setidaknya sedikit perubahan cara pandang dan sikap hidupnya terhadap kenyataan. Lebih memberikan tanggung jawab terhadap keputusan yang sudah, telah dan akan diambil oleh diri individu tersebut. Menyadari bahwa hidup adalah sebuah konsekuensi dari perilaku, perkataan dan merupakan sebuah hubungan sebab-akibat. Bukan membebani diri dengan peristiwa yang telah terjadi, dan merasa khawatir dengan peristiwa yang akan terjadi.

Namun, kenyataan akan selalu membuat saya sepenuhnya meningkatkan kesadaran diri. Menempa saya untuk semakin memahami sebuah hal baik itu peristiwa maupun individu-individu lain. Membuat saya semakin menyadari banyak hal. Bahwa kenyataan akan selalu membuat saya untuk terus belajar mengembangkan jiwa dan pikiran saya. Membuat saya untuk selalu bersikap dengan baik. Kenyataan bahwa ada sebagian orang yang akan selalu berkutat pada masa lalu, ada sebagian lagi yang merupakan pribadi yang sulit membuka diri, atau sebagian lainnya yang akan memilih terus belajar mencari makna dan nilai dalam kehidupannya membuat saya terus belajar banyak hal terhadap mereka. Serta akan selalu muncul berbagai macam sikap-sikap hidup yang berbeda atau berseberangan dengan diri saya. Saya pun sepenuhnya menyadari bahwa mungkin sikap hidup dan cara pandang beberapa individu akan selalu bersinggungan dengan saya sepanjang saya masih hidup, dan mungkin saja mengusik diri saya, namun saya selalu berusaha untuk memahaminya sebagai proses perkembangan jiwa saya. Sebagai sebuah peristiwa dan individu yang akan mengajarkan pada jiwa saya cara untuk bersikap dan memandang dengan lebih baik dari hari ini. Bagi saya ini semua adalah proses penyembuhan jiwa, dari yang perasaan terluka menjadi sembuh, dari perasaan kecewa jadi perasaan menerima, dari perasaan ketidakikhlasan menjadi perasaan pasrah, dari perasaan terusik menjadi perasaan nyaman, dan dari sebuah perasaan ketidakpercayaan menjadi perasaan percaya dan yakin. Kenyataan membuat saya selalu sadar bahwa kehidupan, baik itu peristiwanya maupun inddividu-individu yang terlibat didalamnya, merupakan guru yang mengajarkan saya untuk belajar lebih baik dan baik lagi. Saya ingin memaknai dan mengambil nilai-nilai sebuah peristiwa kehidupan dengan lebih mendalam lagi, karena semua ini adalah sebuah proses perkembangan dan perjalanan jiwa saya dan juga merupakan proses penyembuhan jiwa bagi saya, membuat saya menjadi lebih matang dan lebih membumi baik dalam sikap, cara pandang, cara berbicara dan segala elemen diri saya, karena saya ingin menjadi seseorang yang lebih down to earth dari yang sekarang dan menjadikan saya memiliki sikap hidup yang lebih arif. Karena Ini adalah cara saya untuk membawa diri saya tetap hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar