the chef

Foto saya
yogyakarta, Indonesia
ehmmm....uhmmmm....erggghhh.....(rethinking)...

Minggu, 30 Oktober 2011

gisya in action




Jumat, 14 oktober 2011

Bianglala playgroup class

(anak-anak sedang duduk rapi mendengarkan yanda. Yanda menjelaskan tentang makanan halal dan haram sambil menunjukkan gambar-gambar)

Plok….

“huaaaaaa…..huaaaaa….gisya nakal…huaaaa…”

Ku toleh kearah samping ruangan, Aura menangis kencang setelah kalah berebut kursi dengan Gisya.

“Gisya, kursinya punya Aura, ayo Gisya cari kursi yang lain”

Gisya tersenyum jahil sambil melongos pergi. Anak-anak yang lain masih memperhatikan yanda menjelaskan.

“ya..Gisya ayo maju kedepan tunjuk gambarnya”

Dengan semangat Gisya maju kedepan. Dalam hati saya membatin pasti anak itu akan melakukan kejahilan lagi.

“ayo Gisya, mana makanan yang enggak boleh dimakan?” tanya yanda pada Gisya.

Gisya berjalan menunjukkan gambar bebek dan ayam dengan senyuman jahil dan menggoda yanda.

“udah… Gisya mundur..Gisya tadi enggak mendengarkan yanda kok, ganti nabil” kata yanda dan gisya pun mundur meninggalkan yanda.

Srekkkkk…..sreekkkk….sreekkk…..

Suara yang membuat focus saya teralihkan (masih memangku aura yang menangis dan ngambek). Ternyata Gisya menemukan kardus yang saya sembunyikan dibawah meja. Saya perhatikan apa yang akan dilakukan Gisya dengan kardus tersebut. Sedikit penasaran dan sekaligus ingin menegur anak ini karena tidak mau duduk dengan tenang dikursi, sedangkan teman-temannya masih memperhatikan yanda bercerita.

Gisya berhenti menyeret kardus besar itu tepat didepan tempat duduk saya dan Aura, lalu Gisya masuk kedalam kardus tersebut dan menutup tutup kardusnya. Saya menahan tawa melihat tingkah polahnya yang kreatif sekaligus lucu. Bayangkan, kardus sebesar itu dimasukinya kemudian ditutupnya, yang terlihat tinggal kepalanya yang nyembul-nyembul karena berusaha ditutupi supaya seluruh badannya tak kelihatan.

“ngapain Gisya?” tanyaku kepadanya sambil menahan tawa

“ngumpet bunda, tolong ditutupin biar Gisya enggak kelihatan” katanya sambil berusaha menyembunyikan kepalanya.

Weeekkkkkk…..

Sebagian kaki dan badannya keluar dari kardus tersebut karena kardusnya robek tak kuat menahan badan dan gerakan-gerakan Gisya. Dengan polosnya Gisya tertawa kepada saya dan Aura…kontan kami berdua pun tertawa melihat tingkah Gisya saat itu.

(masih ditengah-tengah pelajaran agama)

Kali ini Gisya sudah bersedia duduk tenang dikursinya mendengarkan Yanda. Yanda pun memperlihatkan beberapa gambar hewan kepada anak-anak.

“ini gambar apa Abi?” tanya yanda pada anak-anak

“ayam yanda!!!!” teriak anak-anak

“nah,kalau ini gambar apa ya?” tanya yanda lagi kepada anak-anak

“ular yanda…” jawab anak-anak

“yandaaa…yandaaaa…” panggil Gisya, dan yanda pun menoleh kearah Gisya “cacing yanda” kata Gisya setelah yanda menoleh sambil menunjuk ke gambar ular yang dibawa yanda.

Rabu, 19 Oktober 2011

life is a song that we choice




October, 10.2011
6:30 pm
Living room

Hari ini, disini, ditempat saya bekerja ini, saya belajar membesarkan hati. Belajar menyabarkan diri. Belajar menata emosi. Belajar untuk berpikir dengan bijak. Saya benar-benar belajar untuk menjadi lebih dewasa dan bijaksana. Lebih bijaksana dalam bertindak dan berucap. Lebih bijaksana dalam memahami setiap hal. Mencoba mencerna segala sesuatunya dengan seimbang dan sesuai dengan porsinya. Saya, berusaha menjadikan diri saya menjadi lebih arif dalam mensikapi setiap hal. Berusaha memilah, mencerna dan merenungkan setiap masalah yang datang, baik itu yang saya hadapi ataupun orang lain alami. Karena, bagi saya, kebijaksanaan hidup tidak hanya datang dari pemahaman diri, tetapi juga pelajaran yang kita petik dari orang lain. Saya, tak ingin lagi menjadi begitu arogan, menjadi begitu egois, menjadi begitu emosional dan menjadi begitu naïf lagi dalam memandang sesuatu hal. Disana, diluar diri kita, banyak hal yang harus disikapi dengan bijak, ditanggapi dengan lebih arif, dan berfikir lebih terbuka.

Saya, juga menanamkan kedalam kesadaran saya, bahwa tak ada yang sempurna didunia ini. Setiap manusia pasti akan selalu melakukan kesalahan. Setiap kesalahan itulah yang sesungguhnya akan membentuk pribadinya. Menunjukkan bagaimana caranya berfikir, caranya bersikap dan caranya mensikapi keadaan. Dan inilah yang selalu saya anggap sebagai kedewasaan. Dewasa yang bukan melulu soal seberapa banyak umur yang kita miliki, namun soal bagaimana kita bersikap dan mensikapi sesuatu hal termasuk keberadaan orang lain disekitar kita. Kedewasaan bukanlah hal yang stagnan, dia selalu berkembang dan berkembang seiring dengan kehidupan manusia. Inilah yang selalu saya sadari, bahwa saya belum mencapai kata dewasa, bahwa saya akan selalu melakukan kesalahan-kesalahan, bahwa saya akan terus banyak belajar, belajar untuk menjadi lebih dewasa, belajar untuk berusaha bersikap arif, dan belajar untuk menggunakan akal, pikiran, perasaan dan hati sesuai dengan porsinya, karena ini adalah hidup, untuk terus belajar dan belajar. karena hidup juga seperti barisan lagu yang telah dan akan kita pilih.