
the chef
- dunia vita
- yogyakarta, Indonesia
- ehmmm....uhmmmm....erggghhh.....(rethinking)...
Senin, 11 Juli 2011
saya dan hati saya

unintended
Seperti kisah para suku penguasa angin, yang begitu sabar menghadapi para penjajah selama dua ratus tahun menguasai tanah serta kekayaan alam mereka. Kesabaran menghadapi segala ujian dan permasalahan hidup. Membuka pikiran dan menjernihkan hati, mengajak diri untuk bersikap lebih bijak, bahwa membalas perlakuan buruk, kekerasan dan kebencian dengan hal yang serupa bukanlah tindakan bijaksana. Kebaikan hati, keramahan diri, kesabaran dan keiklasan adalah perlakuan terbaik yang harus diberikan. Alam, semesta raya bahkan Tuhan, akan selalu memberikan jalan keluar bagi orang-orang yang memiliki keteguhan hati, kedalaman hati, dan kejernihan hati sehingga mencapai kebahagiaan hidup yang selalu diinginkan oleh setiap umat manusia di alam semesta ini.
Kebahagiaan sejati, yang mungkin masih banyak orang diluar sana mencari-cari, berkutat dengan kebahagiaan dunia, menghabiskan harta, bersenang-senang keliling dunia, membanggakan prestasinya, yang sejatinya merupakan kebahagiaan berasal dari luar diri. Pernahkan terbersit pertanyaan dalam benak kita, Apa sejatinya kebahagiaan hidup? Apa definisi kebahagiaan? Kenapa tiba-tiba merasa senang dengan sebuah hadiah, kabar baik, atau keberuntungan? Mengapa tiba-tiba sebaliknya merasa sedih dengan sebuah kejadian, kehilangan atau sekedar kabar buruk? Mengapa hidup kita seperti dikendalikan sebuah benda yang disebut hati? Bahkan tidak ada sekolompok sufi pun yang mungkin dapat memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut dengan memuaskan. Karena, hakikat sejati kebahagiaan hidup itu berasal dari hati kita sendiri. Bagaimana kita membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam dan lebih bersih.
Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya, rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang dan kita memiliki hati yang dangkal, hati kita seketika keruh berkepanjangan. Berbeda halnya jika kita memiliki mata air sendiri di dalam hati. Mata air dalam hati itu konkret. Amat terlihat. Mata air itu menjadi sumber kebahagiaan tidak terkira. Bahkan ketika musuh kita mendapatkan kesenangan, keberuntungan, kita bisa ikut merasa senang atas kabar baiknya, ikut berbahagia, karena hati kita lapang dan dalam. Sementara, orang-orang yang hatinya dangkal, sempit, tidak terlatih, bahkan ketika sahabat baiknya mendapatkan nasib baik, dia dengan segera iri dan gelisah. Padahal, apa susahnya ikut merasa senang. Itulah hakikat kebahagiaan sejati. Ketika kita bisa membuat hati bagai danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya memang tidak mudah, kita harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana dan apa adanya. Kita harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri memaksa hati kita untuk berlatih.
Untuk membuat hati kita lapang dan dalam, tidak cukup dengan membaca novel, membaca buku-buku, mendengarkan petuah, nasihat atau ceramah. Para sufi dan orang-orang berbahagia di dunia harus bekerja keras, membangun benteng, menjauh dari dunia, melatih hati siang dan malam. Hidup sederhana, apa adanya, adalah jalan tercepat untuk melatih hati ditengah riuh rendah kehidupan hari ini. Percayalah, memiliki hati yang lapang dan dalam adalah konkret dan menyenangkan, ketika kita bisa berdiri dengan seluruh kebahagiaan hidup, menatap kesibukan di sekitar, dan melewati hari-hari berjalan, bersama keluarga tercinta.