the chef

Foto saya
yogyakarta, Indonesia
ehmmm....uhmmmm....erggghhh.....(rethinking)...

Senin, 11 Juli 2011

saya dan hati saya


akhir-akhir ini saya lebih banyak merenung. berfikir dengan hati pada setiap kejadian yang saya alami beberapa hari ini. saya menjadi suka memilah dan menelaah setiap hal, rasanya seperti membaca buku saya sendiri, rasanya seperti membuat goresan-goresan dihati saya, dan rasanya saya membangun hati saya sendiri.

saya, menjadi begitu menyukai ketenangan. bukan keteraturan seperti yang telah selama ini saya jalani. saya, menjadi begitu ingin bijaksana. entah. saya merasa telah banyak yang berubah disekitar saya. perasaan ini tak lagi menjadi begitu nyeri. mungkin semua ini karena saya telah menerima dan mengakui setiap kejadian, baik menyenangkan maupun tidak, menjadi bagian dari diri saya. bagian dari kehidupan saya, bagian yang tidak akan pernah dapat saya hapuskan, bagian yang akan terus melekat dalam diri saya. dan karenanya saya bertransformasi menjadi pribadi yang seperti saat ini.

saya menyukai merenung. saya selalu terlarut saat berfikir dengan hati. seolah saya selalu sedang berdialog, berkomunikasi dengan pribadi saya yang lain. seolah selalu ada suara yang memberikan petuah dan perenungan. dan pada titik ini, masa dimana saya hidup dan berdiri ini, saya merasa lebih ringan. bekerja menjadi begitu menyenangkan. bergaul menjadi sesuatu yang mudah, semua menjadi begitu ringan, tak ada lagi beban dan ketakutan. tak ada lagi kepura-puraan. sungguh..saya seolah menjadi pribadi yang baru. yang mampu memahami banyak hal walau dengan cara sederhana, tanpa keegoisan.

saat ini, saya mulai mengerti, bahwa rasio, akal maupun pikiran tidak dapat digunakan sendiri ketika berfikir dan merenung. hati..adalah kunci pengendalian segala yang ada dalam diri. saya, menyadari satu hal, bahwa...saya telah menemukan kekuatan diri saya setelah bertahun-tahun saya mencari dan terus mencari...begitu lama dan panjang.

unintended

Pernahkah hati kita merasa begitu sakit, begitu sedih, begitu kecewa dan berbagai energi negative lainnya? Atau pernahkan kita menjadi begitu bahagia, begitu bersuka citanya, merasakan euphoria yang tak berkesudahan serta berbagai macam energy positif lainnya? Pasti setiap orang akan menjawab pernah. Tapi pernahkan kita berusaha melatih hati kita untuk tidak terlalu larut dalam perasaan-perasaan tersebut. Pernahkah kita berusaha melatih hati kita menjadi lebih bijak dan dalam. Hati yang memiliki mata air jernih didalamnya. Yang mampu menyaring atau membersihkan air-air kotor yang mengalir kedalam mata air tersebut. Yang mampu membersihkan dan menjernihkan kembali air-air didalamnya?.

Seperti kisah para suku penguasa angin, yang begitu sabar menghadapi para penjajah selama dua ratus tahun menguasai tanah serta kekayaan alam mereka. Kesabaran menghadapi segala ujian dan permasalahan hidup. Membuka pikiran dan menjernihkan hati, mengajak diri untuk bersikap lebih bijak, bahwa membalas perlakuan buruk, kekerasan dan kebencian dengan hal yang serupa bukanlah tindakan bijaksana. Kebaikan hati, keramahan diri, kesabaran dan keiklasan adalah perlakuan terbaik yang harus diberikan. Alam, semesta raya bahkan Tuhan, akan selalu memberikan jalan keluar bagi orang-orang yang memiliki keteguhan hati, kedalaman hati, dan kejernihan hati sehingga mencapai kebahagiaan hidup yang selalu diinginkan oleh setiap umat manusia di alam semesta ini.

Kebahagiaan sejati, yang mungkin masih banyak orang diluar sana mencari-cari, berkutat dengan kebahagiaan dunia, menghabiskan harta, bersenang-senang keliling dunia, membanggakan prestasinya, yang sejatinya merupakan kebahagiaan berasal dari luar diri. Pernahkan terbersit pertanyaan dalam benak kita, Apa sejatinya kebahagiaan hidup? Apa definisi kebahagiaan? Kenapa tiba-tiba merasa senang dengan sebuah hadiah, kabar baik, atau keberuntungan? Mengapa tiba-tiba sebaliknya merasa sedih dengan sebuah kejadian, kehilangan atau sekedar kabar buruk? Mengapa hidup kita seperti dikendalikan sebuah benda yang disebut hati? Bahkan tidak ada sekolompok sufi pun yang mungkin dapat memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut dengan memuaskan. Karena, hakikat sejati kebahagiaan hidup itu berasal dari hati kita sendiri. Bagaimana kita membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam dan lebih bersih.

Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya, rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang dan kita memiliki hati yang dangkal, hati kita seketika keruh berkepanjangan. Berbeda halnya jika kita memiliki mata air sendiri di dalam hati. Mata air dalam hati itu konkret. Amat terlihat. Mata air itu menjadi sumber kebahagiaan tidak terkira. Bahkan ketika musuh kita mendapatkan kesenangan, keberuntungan, kita bisa ikut merasa senang atas kabar baiknya, ikut berbahagia, karena hati kita lapang dan dalam. Sementara, orang-orang yang hatinya dangkal, sempit, tidak terlatih, bahkan ketika sahabat baiknya mendapatkan nasib baik, dia dengan segera iri dan gelisah. Padahal, apa susahnya ikut merasa senang. Itulah hakikat kebahagiaan sejati. Ketika kita bisa membuat hati bagai danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya memang tidak mudah, kita harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana dan apa adanya. Kita harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri memaksa hati kita untuk berlatih.

Untuk membuat hati kita lapang dan dalam, tidak cukup dengan membaca novel, membaca buku-buku, mendengarkan petuah, nasihat atau ceramah. Para sufi dan orang-orang berbahagia di dunia harus bekerja keras, membangun benteng, menjauh dari dunia, melatih hati siang dan malam. Hidup sederhana, apa adanya, adalah jalan tercepat untuk melatih hati ditengah riuh rendah kehidupan hari ini. Percayalah, memiliki hati yang lapang dan dalam adalah konkret dan menyenangkan, ketika kita bisa berdiri dengan seluruh kebahagiaan hidup, menatap kesibukan di sekitar, dan melewati hari-hari berjalan, bersama keluarga tercinta.