the chef

Foto saya
yogyakarta, Indonesia
ehmmm....uhmmmm....erggghhh.....(rethinking)...

Sabtu, 22 Januari 2011

oh baby...


siapa yang menyangka menjadi seorang anak kecil tidaklah mudah. mungkin banyak yang bertanya-tanya mengapa saya berkata demikian.

awalnya saya berfikir menjadi seorang anak atau balita sangatlah mudah. jika sedih tinggal menangis. ingin meminta sesuatu tinggal merengek bahkan perhatian seluruh keluarga tercurah padanya. betapa menyenangkannya dunia anak ini. bermain, bermain dan bermain. tak pernah memikirkan betapa sulitnya hidup dijaman seperti saat ini, tidak dipusingkan dengan berbagai permasalahan yang timbul, juga tidak diribetkan dengan persoalan orang-orang dewasa lainnya. menyenangkanlah menjadi seorang anak-anak. begitulah kira-kira dulu saya berfikir.

namun sekarang, setelah beberapa minggu ini saya bertemu dengan anak-anak, bermain bersama mereka dan belajar bersama pula, perlahan tapi pasti persepsi saya tersebut mulai bergeser. saya mulai mengerti bahwa masa kanak-kanak memiliki tingkat kesulitan tersendiri. terkadang, tidak mudah bagi si anak untuk melewatinya. kita, orang dewasa, terkadang lupa betapa anak juga memiliki beban dan masalahnya sendiri dalam melewati masa kanak-kanak ini. orang dewasa juga terkadang begitu egois memaksakan ego dan sikapnya terhadapa anak-anak ini. bahkan tak jarang anak sering menjadi sebuah ajang kompetisi. anak si A pandai menari, kemudian karena kita tidak ingin anak kita ketinggalan, ikut berlomba-lomba memberikan les tambahan untuk si anak. sedikit demi sedikit orang dewasa mulai merenggut waktu bermain anak. kemudian mulai menjejali si anak dengan berbagai hal, yang sebenarnya tanpa kita sadari, itu adalah ego kita sebagai orang dewasa.

saya kembali teringat oleh teori Tabula Rasa milik John Locke. bahwa apa yang ada dalam diri si anak, semua tergantung bagaimana cara orang dewasa disekitarnya mendidik si anak. dan saya agaknya harus sepakat dengan John Locke ini. bagaimana orang dewasa mengajarkannya bertindak, berbicara, bersikap, dan menanamkan nilai-nilai moral lainnya pada si anak pasti akan terbawa oleh si anak sampai kelak ia dewasa. karena inilah saya mengatakan tidak mudah menjadi si anak, namun juga tidaklah gampang menjadi orang dewasa. keduanya memiliki beban tersendiri terhadap perannya. saya hanya terus berharap bahwa orang-orang dewasa diluar sana tidak selalu memaksakan egonya terhadap kepentingan si anak. tidak menjadikan anak sebagai sebuah persaingan dalam komunitas dan juga tidak melupakan bahwa dari tangan kitalah nantinya pribadi anak terbentuk dan terintregrasi didalam dirinya. jangan sampai kita salah mengguratkan tinta ke dalam jiwa si anak, karena selamanya tinta itu akan menjadi pribadi anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar