
rame...rame...rame..
panas...panas...panas...
bagitulah yang terjadi akhir-akhir ini. negeri ini menjadi terasa asing olehku. ada apa dengan para penghuni negeri ini? mengapa akhir-akhir ini begitu gampang mengumbar kemarahan, mudahnya meneriakkan kekesalan, dan begitu mulusnya meluncurkan kata-kata kasar untuk saling menghina dan menjatuhkan. ada apa dengan negeri ini?
terlabih akhir-akhir ini hubungan jogja vs pemerintah vs DPR semakin memanas. lihat saja bagaimana kata-kata Mendagri yang meluncur dengan begitu entengnya, kemudian sikap dan perkataan para wakil rakyat yang bersidang meminta turun Mendagri dari podium saat menyerahkan draf RUUK DIY, reaksi dan perkataan para elite politik dan kaum cendekia yang kadang terasa pedas dan menyakitkan. tidak sadarkah mereka bahwa dengan begitu suasana menjadi semakin memanas dan tak menentu. tidak ingatkah mereka bahwa apa yang diucap dan dilakukan adalah cermin dari pribadi bangsa ini. bahwa seluruh tindak tanduk, tingkah polah dan tutur kata mereka merupakan contoh nyata bagi seluruh rakyat negeri ini. bagaimana sikap rakyat negeri ini jika para elite politik dan pejabat negara ini bersikap begitu arogan, kasar dan tidak mengindahkan nilai-nilai lagi. dimana hilangnya kepribadian bangsa ini? apakah benar telah tergerus oleh arus teknologi yang maju dengan begitu pesat, ataukah memang karena efek dari demokrasi yang kebablasan, sehingga melupakan nurani dan etika bangsa sendiri.
saya juga tidak dapat menyalahkan secara sepihak saja segala kesalahan tersebut kepada pemerintah dan elit politik negeri ini. mungkin saja rakyat negeri ini juga memiliki andil dalam hal ini. mungkin juga rakyat negeri ini juga mulai mudah tersulut kemarahannya. mulai merasa muak dengan keadaan hidupnya. mulai tidak mampu lagi menahan segala gejolak yang terjadi di negara ini. dengan kata lain rakyat negara ini mulai kehabisan kesabarannya. mungkin benar pepatah mengatakan bahwa kesabaran seseorang memiliki batas. hal ini mungkin juga menimpa warga negara ini khususnya warga masyarakat jogjakarta.
seumur hidup saya, selama saya tinggal di jogjakarta, saya belum pernah melihat warga jogja begitu geram dan melakukan aksi besar-besaran seperti yang terjadi pada saat sidang paripurna DPRD di kawasan malioboro beberapa waktu yang lalu. boleh diingat, ketika terjadi reformasi tahun 98, pada saat krisis moneter yang menyebabkan kekacauan di berbagai dimensi negeri ini, sedikit sekali atau bahkan tidak ada sama sekali aksi-aksi yang dilakukan warga jogjakarta. mereka lebih banyak bersikap diam dan tenang. namun kini, mungkin rakyat jogja tekah terusik ketenangan dan kenyamanannya.
benar ketika isu penetapan dan atau pemilihan guberniur jogjakarta digulirkan pemerintah pusat, reaksi beragam langsung saja muncul, dan reaksi kontra langsung ditunjukkan oleh sebagian besar warga jogja. sekali lagi saya tekankan SEBAGIAN BESAR. mungkin benar bahwa pemerintah pusat menginginkan kemajuan bagi jogjakarta, dengan salah satu caranya yakni pemilihan gubernur jogjakarta. namun pemilihan saja tdaklah cukup. saya bukannya ingin menunjukan sikap memilih salah satu pihak dalam hal ini. saya lebih suka mensharingkan unek-unek saya mengenai hal ini.
sebenarnya tidak ada yang salah antara penetapan dengan pemilihan. yang saya sesalkan adalah berbagai pihak terkesan begitu reaktif dan emosional menanggapi fenomena ini. sebut saja komentar Mendagri terhadap aksi warga jogja saat sidang DPRD, reaksi Ruhut yang dilansir dalam Merdeka Online, serta reaksi banyak pihak lainnya yang terkesan semakin memperkeruh dan membakar suasana saja. saya tak menyalahkan mereka, karena berpendapat adalah hak setiap warga negara, namun alangkah tidak bijaksananya ketika kita berpendapat tanda memperhatikan apa yang akan kita katakan dan tanpa menganalisis situasi dan kondisi saat itu. yah, nasi sudah menjadi bubur, dan mungkin banyak pihak yang kecewa dengan sikap-sikap seperti ini, termasuk saya ini.
bagi saya, sebenarnya semua ini bukan berpatok atau berpusat bagaimana pemilihan gubernur ini dilakukan. bukan pada penetapan ataupun pada pemilihan. saya lebih suka melihat semua ini pada nilai history jogjakarta serta kontrak moral bangsa ini terhadap jogjakarta. benar adanya ketika kita ingin memajukan diri, tak bolehlah terikatpada sejarah, namun apakah kita akan menjadi sepicik itu dengan menghilangkan kontrak moral para pendiri bangsa ini. saya melihat, tuntutan warga jogja akan penetapan sri sultan dan paduka pakualan sebagai gubernur dan wakil gubernur bukan semata karena keistimewaan jogja saja, tapi lebih kepada rasa moral serta kesetiaan terhadap rajanya, yang telah menjaga dan memerintah jogjakarta dengan damai. sejarah memang tinggallah sejarah, tapi apakah kita akan menjadi manusia yang melupakan sejarah. menjadi bangsa yang picik dengan meniadakan sejarah. menjadi bangsa yang arogan dengan mengkhianati kontrak moral para pendiri kita? bangsa ini terlalu bermartabat untuk melakukan semua itu. kita adalah bangsa yang bernurani, bangsa yang menghargai para pendirinya.
sekali lagi, ini semua sesungguhnya bukan semata tentang keistimewaan jogjakarta, namun tentang bagaimana bangsa ini menghargai sejarahnya, bangsa ini menghargai para pendirinya, dan bagaimana sikap moral bangsa ini terhadap sejarahnya. esok, kita akan mendapatkan jawabannya. apakah bangsa ini adalah bangsa yang arif, bijaksana dan menghargai sejarah ataukah bangsa yang arogan, angkuh dan sombong. waktu akan membuktikannya, kita tunggu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar