
the chef
- dunia vita
- yogyakarta, Indonesia
- ehmmm....uhmmmm....erggghhh.....(rethinking)...
Selasa, 28 Desember 2010
BRI oh BRI

Senin, 27 Desember 2010
uhmm
Kamis, 23 Desember 2010
buka dulu topengmu...

nasionalisme
Rabu, 22 Desember 2010
vermak muka dan potongan rambut.

bosen dengan tampilan yang kaya gini2 aja, rasanya pengen cukur rambut. pengen ganti potongan rambut juga. biar tampak lebih fresh dan enggak kusut. mungkin sedikit perawatan muka juga. yah etung-etung membasmi jerawat gitu. katanya muka ku kusut sekusut benang rungsek. jadi kenapa enggak aku vermak sedikit aja.
namun sayangnya, belum dapat model potongan rambut yang cocok. juga masih sayang karena rambut saya terlanjur panjang. hemmm...rethinking.
hari ini ngapain ya?
hari ini saya tidak punya isnpirasi menulis sama sekali. tidak ada keinginan menuangkan isi pikiran saya. dalam benak saya hanya ingin melepas lelah karena beberapa hari ini jadwal kegiatan yang terlalu padat. memforsir badan dan tenaga membuat saya merasa sangat lelah dan penat.
memutar otak tapi tetap saja bingung mau kemana merefreshingkan diri. banyak keinginan yang ingin saya turuti namun sepertinya dana dan waktu tak mencukupi. pengen pulang ke jakarta, menjenguk sanak saudara disana, pengen ke klaten bertemu dengan eyang tercinta atau pengen berwisata ketempat-tempat indah tapi rasa malas dan enggan kok masih bercokol dalam diri saya. rasanya eman-eman mengeluarkan uang segitu banyaknya untuk berpergian. uang untuk tiket pulang balik, oleh-oleh dan belum lagi uang untuk jalan-jalannya. ah, makin pusing kepala ini.
kebutuhan yang lain yang semakin menumpuk untuk segera dipenuhi juga semakin memusingkan kepala ini. belum bayar pulsa, bayar interet, dan beli celana kerja (sejujurnya hanya satu yang saya punya saat ini, masa kerja pakai celana jeans kan enggak lucu). sebenernya tak perlu beli celana kerja, tapi kalau begitu saya harus menggambil semua celana kain saya dijakarta, yang artinya saya harus membeli tiket PP yang nominal tiketnya pasti lebih dari budget yang saya siapkan untuk membeli celana disini. jadi hematnya, saya lebih memilih membeli beberapa saya dibandingkan harus berangkat ke jakarta. biar saja dibilang pelit. yah, mungkin akhir liburan smester tahun depan sebaiknya saya ke jakarta. menuntaskan janji saya kepada kakak-kakak saya. juga melepaskan rindu saya pada kemacetan, keramaian, dan kepadatan ibukota.
untuk ayah tercinta...dengarlah ceritaku
Selasa, 21 Desember 2010
Senin, 20 Desember 2010
lelah
waktunya memadamkan bara
mengistirahatkan jiwa ke dalam hangatnya pelukan malam
aku merindukan kesederhanaanmu,
senyum mesra yang merekah dalam kesunyian malam
dan saat sang fajar menyapaku nanti
aku tahu hangatnya embun pagilah yang menentramkan hatiku
hujan kali ini...
aku masih mengenangmu.
membuatku selalu mengingat pada satu rindu...
for my lovely: atika pramiardani
grow up
Minggu, 19 Desember 2010
hidup itu kerja keras gan!!

Sabtu, 18 Desember 2010
Ini adalah kesan saya ketika microteaching di Bianglala..
Saya terkesan dengan keceriaan dan keramahan para guru dan anak-anak disana.
Betapa berkesannya ketika saya juga ikut merayakan ulang tahun Nadia, bernyanyi bersama, potong kue dan makan kue bersama.
Saya juga tak dapat melupakan kesan saya terhadap Anang, yang begitu beraninya menghampiri saya, mengajak saya bersalaman, memanggil saya bunda, dan bercerita berbagai hal dengan Anang.
Saya juga masih begitu ingat tampang polos Aurel. Anak manis yang masih sedikit bergantung pada keberadaan orang dewasa. Yang masih agak takut-takut dengan orang asing. Namun begitu polosnya gadis cilik ini.
Saya masih saja terkesan dengan senyum manis Radit, celetukan-celetukan lucunya dan senyuman manisnya kepada saya. Anak mungkil yang tampan sekaligus gendut dan lucu ini begitu menarik perhatian saya. Begitu menggemaskan dan mencuri hati saya.
Saya selalu teringat kebadingan Atar dan Zanah. Dua anak usil yang selalu badung, saling menjambak, saling mengusili dan saling berebutan mainan. Tapi mereka tetap anak-anak yang manis untuk saya.
Dan masih banyak lagi kesan hangat yang saya dapatkan dari pengalaman microteaching ini. Saya begitu terkesan dengan sambutan yang mereka berikan. Saya benar-benar sangat berharap dapat bertemu dengan mereka semua lagi.
murbei is blackberry
Kalau tulisan saya kali ini benar-benar tentang pengalaman masa kecil saya.
Dulu, waktu saya masih kecil, bias dibilang sangat bandel. Suka sekali bermain ke kebun, sawah, sungai dan tempat-tempat lainnya. Bukan hanya sekedar bermain, saya dan teman-teman saya suka sekali mencoba buah-buahan yang kami temui di kebun. Kadang kami memetik buah jambu monyet, duwet, kesemek, sawo kecik, jambu biji, ciplukan, dan murbei. Nah yang terakhir inilah yang akhir-akhir ini berkesan untuk saya.
MURBEI.
Bentuknya yang kecil, imut-imut (seperti saya), manis dan berwarna ungu kehitaman ketika sudah masak dan berasa masam berwarna merah ketika masih muda. Pohonnya kecil seperti pohon tanaman hias. Daunnya (katanya) digunakan untuk makanan ulat sutera. Dulu, dikebun belakang rumah saya ada begitu banyak pohon murbei. Dan buah inilah yang selalu menjadi favorit saya dan teman-teman saya karena bentuk dan rasanya yang manis dan unik. Namun sekarang, pohon buah ini mulai langka, saya tidak lagi dapat menjumpai pohon ini dikebun belakang rumah maupun kebun teman-teman saya. Akibatnya, kami juga sudah tidak dapat lagi menikmati buahnya.
Nah, mulai tahun 2000-an, booming yang namanya Blackberry. Salah satu merek smartphone yang juga menjadi favorit seluruh umat di Indonesia. Bukan handphone-nya yang menarik perhatian saya, namun kata Blackberry-nyalah yang menggelitik rasa ingin tahu saya. Usut punya usut, ternyata blackberry adalah salah satu jenis buah yang tergolong dalam jenis berry. Sebenarnya ada banyak buah yang tergolong dari ras berry, ada blueberry, raspberry, blackberry, dan lain-lain.
Blackberry,
Ternyata anatomi buahnya persis dan sama dengan buah murbei. Bentuk, warna dan ukurannya pun sama. Saya sempat tercengang ketika mengetahui kalau murbey adalah blackberry. Karena rasa tak percaya ini, saya mengkonfirmasikan hal ini kepada teman saya. Dan ternyata benar, blackberry adalah murbei. Spontan saya ingat bagaimana saya menikmati makan buah ini semasa kecil. Begitu enak dan manis.
Sekarang,
Entah dimana keberadaan pohon-pohon buah itu didesa saya. Mungkin karena kami ini orang awam, yang kurang tahu berbagai jenis buah yang bermanfaat sehingga dikira ilalang atau pohon tak bermanfaat. Andai saja masih ada satu pohon yang hidup di desa kami, mungkin anak-anak kecil sekarang ini bisa juga menikmati murbey yang juga blackberry. Ternyata, pengalaman masa kecil bisa menambah kekayaan pengetahuan kita, walau tanpa kita sadari secara langsung.
saya memang muslim
Saya memang muslim,
Entah mengapa begitu jengah melihat tingkah pola para tokoh agama bertindak diluar kewajaran.
Saya memang muslim,
Tapi juga kecewa dengan konflik berkepanjangan yang mengatasnamakan Tuhan.
(Ingat pemboman gereja tahun 2000, konflik Poso, dll).
Saya ini memang muslim,
Yang bingung dengan menjamurnya peraturan-peraturan daerah yang berdasarkan syariat.
Saya adalah Islam,
Tapi sekaligus tertegun mendengar berbagai pernyataan bahwa Islam adalah agama PALING BENAR.
Saya memang Islam,
Namun saya selalu berpikir dan berkeyakinan bahwa Tuhan disebut dengan berbagai nama dan disembah dengan berbagai cara di seluruh penjuru dunia ini.
Saya memang beragama islam,
Tetapi saya sering berfikir tak ada agama yang tak mengajarkan kebaikan. Bahwa baik, buruk, kesopanan ataupun kesantunan, bukanlah ditentukan oleh agama yang dianut, Barat ataupun Timur, tapi dari hati dan pribadi masing-masing individu.
Saya memang muslim dan islam,
Yang selalu berfikir, Tuhan tidaklah membutuhkan pembelaan ataupun pembenaran dari umatNya. Yang selalu meyakini bahwa Tuhan hanya menginginkan seluruh umatNya, menyembah dengan tulus dan iklas.
Saya adalah muslim,
Yang selalu mengharapkan adanya perdamaian dunia, keselarasan hidup, dan hidup berdampingan tanpa adanya konflik antar umat beragama di dunia ini.
ada apa dengan negeri ini?

rame...rame...rame..
panas...panas...panas...
bagitulah yang terjadi akhir-akhir ini. negeri ini menjadi terasa asing olehku. ada apa dengan para penghuni negeri ini? mengapa akhir-akhir ini begitu gampang mengumbar kemarahan, mudahnya meneriakkan kekesalan, dan begitu mulusnya meluncurkan kata-kata kasar untuk saling menghina dan menjatuhkan. ada apa dengan negeri ini?
terlabih akhir-akhir ini hubungan jogja vs pemerintah vs DPR semakin memanas. lihat saja bagaimana kata-kata Mendagri yang meluncur dengan begitu entengnya, kemudian sikap dan perkataan para wakil rakyat yang bersidang meminta turun Mendagri dari podium saat menyerahkan draf RUUK DIY, reaksi dan perkataan para elite politik dan kaum cendekia yang kadang terasa pedas dan menyakitkan. tidak sadarkah mereka bahwa dengan begitu suasana menjadi semakin memanas dan tak menentu. tidak ingatkah mereka bahwa apa yang diucap dan dilakukan adalah cermin dari pribadi bangsa ini. bahwa seluruh tindak tanduk, tingkah polah dan tutur kata mereka merupakan contoh nyata bagi seluruh rakyat negeri ini. bagaimana sikap rakyat negeri ini jika para elite politik dan pejabat negara ini bersikap begitu arogan, kasar dan tidak mengindahkan nilai-nilai lagi. dimana hilangnya kepribadian bangsa ini? apakah benar telah tergerus oleh arus teknologi yang maju dengan begitu pesat, ataukah memang karena efek dari demokrasi yang kebablasan, sehingga melupakan nurani dan etika bangsa sendiri.
saya juga tidak dapat menyalahkan secara sepihak saja segala kesalahan tersebut kepada pemerintah dan elit politik negeri ini. mungkin saja rakyat negeri ini juga memiliki andil dalam hal ini. mungkin juga rakyat negeri ini juga mulai mudah tersulut kemarahannya. mulai merasa muak dengan keadaan hidupnya. mulai tidak mampu lagi menahan segala gejolak yang terjadi di negara ini. dengan kata lain rakyat negara ini mulai kehabisan kesabarannya. mungkin benar pepatah mengatakan bahwa kesabaran seseorang memiliki batas. hal ini mungkin juga menimpa warga negara ini khususnya warga masyarakat jogjakarta.
seumur hidup saya, selama saya tinggal di jogjakarta, saya belum pernah melihat warga jogja begitu geram dan melakukan aksi besar-besaran seperti yang terjadi pada saat sidang paripurna DPRD di kawasan malioboro beberapa waktu yang lalu. boleh diingat, ketika terjadi reformasi tahun 98, pada saat krisis moneter yang menyebabkan kekacauan di berbagai dimensi negeri ini, sedikit sekali atau bahkan tidak ada sama sekali aksi-aksi yang dilakukan warga jogjakarta. mereka lebih banyak bersikap diam dan tenang. namun kini, mungkin rakyat jogja tekah terusik ketenangan dan kenyamanannya.
benar ketika isu penetapan dan atau pemilihan guberniur jogjakarta digulirkan pemerintah pusat, reaksi beragam langsung saja muncul, dan reaksi kontra langsung ditunjukkan oleh sebagian besar warga jogja. sekali lagi saya tekankan SEBAGIAN BESAR. mungkin benar bahwa pemerintah pusat menginginkan kemajuan bagi jogjakarta, dengan salah satu caranya yakni pemilihan gubernur jogjakarta. namun pemilihan saja tdaklah cukup. saya bukannya ingin menunjukan sikap memilih salah satu pihak dalam hal ini. saya lebih suka mensharingkan unek-unek saya mengenai hal ini.
sebenarnya tidak ada yang salah antara penetapan dengan pemilihan. yang saya sesalkan adalah berbagai pihak terkesan begitu reaktif dan emosional menanggapi fenomena ini. sebut saja komentar Mendagri terhadap aksi warga jogja saat sidang DPRD, reaksi Ruhut yang dilansir dalam Merdeka Online, serta reaksi banyak pihak lainnya yang terkesan semakin memperkeruh dan membakar suasana saja. saya tak menyalahkan mereka, karena berpendapat adalah hak setiap warga negara, namun alangkah tidak bijaksananya ketika kita berpendapat tanda memperhatikan apa yang akan kita katakan dan tanpa menganalisis situasi dan kondisi saat itu. yah, nasi sudah menjadi bubur, dan mungkin banyak pihak yang kecewa dengan sikap-sikap seperti ini, termasuk saya ini.
bagi saya, sebenarnya semua ini bukan berpatok atau berpusat bagaimana pemilihan gubernur ini dilakukan. bukan pada penetapan ataupun pada pemilihan. saya lebih suka melihat semua ini pada nilai history jogjakarta serta kontrak moral bangsa ini terhadap jogjakarta. benar adanya ketika kita ingin memajukan diri, tak bolehlah terikatpada sejarah, namun apakah kita akan menjadi sepicik itu dengan menghilangkan kontrak moral para pendiri bangsa ini. saya melihat, tuntutan warga jogja akan penetapan sri sultan dan paduka pakualan sebagai gubernur dan wakil gubernur bukan semata karena keistimewaan jogja saja, tapi lebih kepada rasa moral serta kesetiaan terhadap rajanya, yang telah menjaga dan memerintah jogjakarta dengan damai. sejarah memang tinggallah sejarah, tapi apakah kita akan menjadi manusia yang melupakan sejarah. menjadi bangsa yang picik dengan meniadakan sejarah. menjadi bangsa yang arogan dengan mengkhianati kontrak moral para pendiri kita? bangsa ini terlalu bermartabat untuk melakukan semua itu. kita adalah bangsa yang bernurani, bangsa yang menghargai para pendirinya.
sekali lagi, ini semua sesungguhnya bukan semata tentang keistimewaan jogjakarta, namun tentang bagaimana bangsa ini menghargai sejarahnya, bangsa ini menghargai para pendirinya, dan bagaimana sikap moral bangsa ini terhadap sejarahnya. esok, kita akan mendapatkan jawabannya. apakah bangsa ini adalah bangsa yang arif, bijaksana dan menghargai sejarah ataukah bangsa yang arogan, angkuh dan sombong. waktu akan membuktikannya, kita tunggu saja.