the chef

Foto saya
yogyakarta, Indonesia
ehmmm....uhmmmm....erggghhh.....(rethinking)...

Selasa, 28 Desember 2010

BRI oh BRI



sumpah hari ini saya merasa begitu kesal dan jengkel. emosi tingkat tinggi. gimana enggak kesal coba, yang namanya Bank, apalagi Bank milik pemerintah seharusnya memberikan pelayanan yang optimal dan maksimal, juga kinerja karyawannya yang bagus dan profesional. ini enggak sama sekali. teller bank ini benar-benar enggak profesional. bagaimana bisa seorang teller bank bisa salah memasukan uang setoran ke rekening pihak lain. benar-benar mengesalkan sekali. ini benar-benar saya alami.

tanggal 20 desember 2010 kemarin, saya berangkat ke Bank BRI Cabang Dekso berniat menyetorkan uang setoran listrik sambil sekalian menuju ke KUD Samigaluh untuk menyerahkan seluruh slip setoran bulan itu. sesampai di BRI Dekso, saya pun mengantri. lama mengantri dan menunggu no antrian dipanggil, akhirnya saya pun dipanggil juga. begitu dipanggil, saya langsung menyerahkan uang sebesar 70.000 rupiah kepada sang Teller dan mendapatkan kembali slip setoran saya.

selang beberapa hari, baru saya ketahui si Teller salah memasukan rekening tujuan yang saya tulis. kodenya pun salah. padahal jelas-jelas disitu tertulis siapa penyetornya, namun si Teller salah memasukan kodenya sehingga yang muncul adalah nama yang lain. hal ini kemudian menyebabkan keribetan mengurus pembukuannya. saya benar-benar kesal dan kecewa dengan kinerja si Teller ini. bagaimana bisa pegawai Bank sekelas ini bisa begitu tidak teliti dan merugikan nasabahnya.

demi mengurus semua kekacauan ini kemudian saya jauh-jauh pergi ke bank ini dan bermaksud meminta koreksi atas kekelirian pihak bank ini. perdebatan alot pun terjadi antara saya dengan pihak bank. kebetulan saya langsung ditemui oleh kepala unit bank tersebut. jelas langsung saya manfaatkan dengan mengkomplein habis-habisan keteledoran si Teller ini. saya tetap bersikukuh meminta koreksi pada slip pembayaran saya tersebut. tapi pihak bank beralasan tida dapat membuka sistem saat transaksi tersebut karena sistem tidak dapat dibuka jika tidak pada saat hari transaksi itu berlangsung. jelas saja saya marah-marah, saya merasa kecewa dan dirugikan. pada ahirnya pihak bank ini hanya memberikan surat keterangan yang menyatakan pihak bank telah salah mengirimkan kode giringnya. dan dengan masih amat sangat kesal dan muka yang masih masam saya terima surat keterangan itu serta ngeloyor pergi meninggalan si Teller tersebut. sampai saat ini saya masih benar-benar kesal dengan kejadian ini. dan ini membuat saya enggan menggunakan jasa dari bank ini.
jangan sekalipun kelak engkau bergantung dan berharap pada apapun serta siapapun..karena pada akhirnya pun akan sama..merasa kecewa dan bersedih.

jangan pula engkau terlalu percaya pada apapun dan siapapun didunia ini...karena pada kenyataannya hanya diri kita sendirilah yang dapat kita percaya....

Senin, 27 Desember 2010

saya sedang hipersensitif...senggol bacok!!!!

uhmm

benarkah Tuhan memang satu?
benarah kita yang tak sama?
lantas kenapa imanlah yang disalahkan?
sungguh tida bisakah semua itu berbaur?

kalau benar Tuhan itu satu,
kenapa harus ada perbedaan yang membentuk benteng begitu hingga sulit untuk digapai oleh kita? dalam segala hal?

katanya Tuhan tidak membutuhkan pembenaran dan pembelaan?
lantas kenapa semua saling membenarkan dan membela?
aku tak mengerti kenapa seperti ini. menjadi sedemian egoisnya.

bukankah pada ahirnya Tuhan menginginkan semua mahlukNya untuk saling menjaga setulus hati?
hari ini aku dalam kebimbangan, mengapa harus saling menggugat dan menyalahkan?
haruskah kita lantas pergi?

......thinking..........

Kamis, 23 Desember 2010

buka dulu topengmu...


hari ini enggak ada agenda jalan maupun kegiatan apapun, jadi iseng-iseng saya nonton ftv di salah satu stasiun tv indonesia. ceritanya cukup seru dan unik. emang sih temanya enggak jauh-jauh dari cinta. sedikit menarik karena dikemas berbeda. begitu awalnya saya berfikir. dari awal sampai pertengahan film ini saya ikuti dengan serius. dan dipertengahan film, saya baru sadar kalau adegan itu mengingatkan saya pada salah satu film korea yang pernah saya tonton juga. pantas saja saya merasa tak asing dengan alur cerita di film tersebut.

kecewa juga sebenarnya, banyak film, sinetron dan lagu yangb menjiplak film-film luar negeri. entah mengapa begitu sering terjadi. padahal banyak para sineas dan musisi yang kompeten di negeri ini. yang saya juga sangat yakin dapat melahirkan karya yang bagus dan tak kalah saing dengan film-film dari luar. contohnya saja ALENIAS, banyak film-film bagus, menarik dan sarat dengan pembelajaran. toh animo masyarakat terhadap film karya negeri ini begitu besar, jadi kenapa harus menjiplak karya orang lain. bukankah ada rasa puas ketika kita menciptakan karya yang benar-benar asli karya sendiri. negeri ini seharusnya bangga dengan kemampuan diri sendiri.

nasionalisme

katanya rasa nasionalisme harus dimanifestasikan dalam sebuah sikap nyata. kalau jaman sd sampai sma, rasa nasionalisme dimanifestasikan dengan mengikuti upacara tiap hari senin atau setiap hari besar nasional. konon katanya dengan mengikuti upacara bendera ini, rasa nasionalisme para siswa sekolah akan tumbuh dan terbangun. tapi kok (sejujurnya) saya enggak pernah merasa seperti itu ya? setiap kali saya mengikuti upacara, yang saya rasakan hanya panas dan panas. juga bosan menunggu para guru atau kepala sekolah selesai berpidato. semakin lama pidatonya semakin panas menyengat kepala saya. kadang juga saya merasa enggan mengikuti upacara. habis panas dan panas.

dan akhir-akhir ini banyak orang menunjukkan rasa nasionalisme nya dengan mendukung tim nasional Indonesia yang berlaga di piala AFF. namun lagi-lagi saya merasa bahwa itu juga bukan cara saya menunjukkan rasa nasionalisme saya. jujur saja, saya ini orang yang selamanya tidak akan pernah bisa menikmati permainan sepak bola. saya sering memaksakan diri saya untuk mencoba melihat dan mencari kenikmatan permainan si bola sepak ini. namun hasilnya pasti saya ketiduran di pertengahan pertandingan.

bagi saya, rasa nasionalisme tidak harus melulu ditunjukkan dengan cara mengikuti upacara bendera dan mendukung tim nas. yang penting bagi saya adalah saya berperilaku sesuai dengan kepribadian bangsa ini. saya tunjukkan dengan menggunakan produk-produk dalam negeri, juga tidak merasa malu dengan menggunakan pakaian khas negeri ini. pokoknya, saya ingin menunjukkan rasa nasionalisme saya dengan cara saya sendiri dan saya juga menikmatinya.

Rabu, 22 Desember 2010

vermak muka dan potongan rambut.


bosen dengan tampilan yang kaya gini2 aja, rasanya pengen cukur rambut. pengen ganti potongan rambut juga. biar tampak lebih fresh dan enggak kusut. mungkin sedikit perawatan muka juga. yah etung-etung membasmi jerawat gitu. katanya muka ku kusut sekusut benang rungsek. jadi kenapa enggak aku vermak sedikit aja.

namun sayangnya, belum dapat model potongan rambut yang cocok. juga masih sayang karena rambut saya terlanjur panjang. hemmm...rethinking.


hari ini ngapain ya?

hari ini saya tidak punya isnpirasi menulis sama sekali. tidak ada keinginan menuangkan isi pikiran saya. dalam benak saya hanya ingin melepas lelah karena beberapa hari ini jadwal kegiatan yang terlalu padat. memforsir badan dan tenaga membuat saya merasa sangat lelah dan penat.

memutar otak tapi tetap saja bingung mau kemana merefreshingkan diri. banyak keinginan yang ingin saya turuti namun sepertinya dana dan waktu tak mencukupi. pengen pulang ke jakarta, menjenguk sanak saudara disana, pengen ke klaten bertemu dengan eyang tercinta atau pengen berwisata ketempat-tempat indah tapi rasa malas dan enggan kok masih bercokol dalam diri saya. rasanya eman-eman mengeluarkan uang segitu banyaknya untuk berpergian. uang untuk tiket pulang balik, oleh-oleh dan belum lagi uang untuk jalan-jalannya. ah, makin pusing kepala ini.

kebutuhan yang lain yang semakin menumpuk untuk segera dipenuhi juga semakin memusingkan kepala ini. belum bayar pulsa, bayar interet, dan beli celana kerja (sejujurnya hanya satu yang saya punya saat ini, masa kerja pakai celana jeans kan enggak lucu). sebenernya tak perlu beli celana kerja, tapi kalau begitu saya harus menggambil semua celana kain saya dijakarta, yang artinya saya harus membeli tiket PP yang nominal tiketnya pasti lebih dari budget yang saya siapkan untuk membeli celana disini. jadi hematnya, saya lebih memilih membeli beberapa saya dibandingkan harus berangkat ke jakarta. biar saja dibilang pelit. yah, mungkin akhir liburan smester tahun depan sebaiknya saya ke jakarta. menuntaskan janji saya kepada kakak-kakak saya. juga melepaskan rindu saya pada kemacetan, keramaian, dan kepadatan ibukota.

untuk ayah tercinta...dengarlah ceritaku

hari ini adalah hari ibu, namun tulisan saya kali ini bukan menceritakan araupun mendeskripsikan tentang hari ini. ibu. saya sedang ingin keluar dari topik hari ini. ini semua tentang ayah. dan semoga tulisan ini dapat menjadi inspirasi dan renungan untuk semua ayah dan calon ayah di muka dunia.

Andre, seorang anak yang setiap sore selalu menanti kepulangan ayahnya dari kantor untuk sekedar mengajaknya bermain. suatu sore, sepulang kerja, sang ayah ditanya oleh Andre "Ayah, ayah kerja dikantor dibayar berapa sih?". sembari mengernyitkan dahi, si ayah menjawab, "ya, sekitar Rp. 2.500.000,00!".

"kalau sehari berarti berapa, ya?" sela Andre. ayah mulai bingung "seratus ribu rupiah, ada apa sih/ kok tanya gaji segala?" akan tetapi andre tetap bertanya lagi, "kalau, setengah hari berarti lima puluh ribu ripiah, dong?"

'iya, memangnya kenapa?" sahut ayah mulai jengkel. si anak dengan mantapnya mengajukan permohonan "gini yah!, tolong tambahin tabungan andre dong, lima ribu saja. soalnya andre sudah punya tabungan sebesar empat puluh lima ribu. rencananya andre mau membeli ayah setengah hari saja supaya kita bisa pergi memancing bersama!"

Selasa, 21 Desember 2010

ini adalah kisah perjalanan saya mencari hidup. perjalanan panjang dan jauh. berbagai tempat saya datangi. berbagai orang telah saya temui. banyak hal yang telah saya lalui. ini adalah pengalaman saya, maka nikmatilah tulisan ini, dan belajarlah dari apa yang ada di blog ini.

tahun 2008 saya menuntaskan tugas dan kwajiban dasar saya sebagai seorang anak terhadap orang tuanya. saya menyelesaikan studi saya. tepat bulan Oktober 2010 saya menyandang gelar Sarjana Psikologi. walaupun saya ini lulusan salah satu Universitas Swasta di kawasan Jogja bagian barat, saya tidak pernah berkecil hati karena saya memiliki kompetensi dan keahlian yang tidak kalah dengan lulusan dari Universitas Negeri di Jogja ini. IPK saya pun bisa dikatakan tinggi. jadi ada banyak hal yang bisa saya banggakan sebagai seorang yang menyandang gelar Sarjana. saya tidaklah bodoh dan tidaklah Sarjana yang buta akan keterampilan lainnya.

pasalnya, selama kuliah saya pernah mengikuti berbagai macam kegiatan UKM, pencapaian tertinggi saya ketika itu adalah menjadi Pimpinan Umum Persma di kampus saya. memang benar saya ini adalah orang yang displin dan keras. mungkin karena inilah saya bisa meraih segala pencapaian saya di kampus. bekal pengalaman dari menjadi asisten dosen dan asisten konselor pun ada di genggaman saya. karenanya saya tidak pernah minder menjadi lulusan sebuah Universitas Swasta.

awal tahun 2009, saya memutuskan untuk hijrah ke ibu kota. kota metropolitan tujuan hampir sebagian besar para lulusan perguruan tinggi di Indonesia. kota dimana 75 % peredaran uang terjadi. kota tempat mengadu nasib seluruh elemen masyarakat. maka saya pun memutuskan untuk mengadu nasib disana. berbekal ijazah dan pengalaman yang saya punya akhirnya saya berangkat menuju ibukota. pertama kali menginjakan kaki di ibukota saya sempat tercengang heran. betapa tingginya bangunan dan gedung-gedung disana, begitu bnayak mobil dan sepeda motor serta banyak sekali orang berlalu lalang. sekali saya melihat keadaan disana seketika itu saya tahu bahwa saya harus keras pada diri saya sendiri jika ingin bertahan di ibukota. saya juga harus waspada dan tak mudah mempercayai orang lain jika saya ingin selamat hidup di pusat negara ini. maka mulai detik itu juga, saya menjadi semakin keras dan waspada terhadap segala hal.

hari demi hari saya lalui di ibukota dengan sibuk mencari dan terus mencari kerja. di terima di perusahaan satu, namun tidajk cocok, keluar, kemudian mencari pekerjaan yang lain. begitu seterusnya kehidupan saya disana. sampai tahun 2010, saya belum juga menemukan pekerjaan yang pas. pekerjaan yang sesuai dengan jiwa dan pribadi saya. selama saya berada di ibukota, diri saya menjadi semakin tertempa. jiwa saya semakin kuat menghadapi segala mancam hambatan. saya menjadi tidak mudah marah, saya menjadi tidak mudah tersulut emosi dan saya menjadi lebih bijaksana dalam mengambil keputusan dan sikap hidup. saya juga lebih menghargai diri saya, menghargai keberadaan keluarga saya dan teman-teman saya. singkat kata, ibukota telah mengubah segala hal yang ada dalam diri saya, dari pikiran hingga batin saya.

tahun 2010 saya memutuskan untuk kembali ke kota tercinta, jogjakarta. saya kembali memulai dari awal. kembali mencari pekerjaan. waktu saya habiskan dengan browsing dan baca lowongan pekerjaan. saya bolak-balik ke kantor pos, sampai-sampai petugas pos di desa saya mengenal saya dengan baik. begitulah kegiatan saya setiap hari.

kemudian bulan November, ayah saya memutuskan membuka usaha sendiri. fotocopy dan alat tulis. saya pikir, daripada saya tidak melakukan apa-apa dirumah dan kebosanan membunuh saya, saya pun ikut andil di toko itu. sebelum membuka toko, saya berhari-hari harus belajar mengoperasikan mesin fotocopy dan komputer pembayaran listri. sampai bulan desember, saya masih terus mengurusi toko itu hingga saya mendapat kabar bahwa saya diterima kerja sebagai educator playgroup dikawasan jogja utara. dan disaat bersamaan, saya pun mendapat kabar bahwa adik saya juga berhasil lolos tes melanjutkan studinya di STAN.

beberapa tahun ini saya memang mengalami berbagai macam kesulitan dan kesengsaraan. rasa sakit dan tangisan seringkali saya alami. dan memang benar adanya pepatah mengatakan bahwa berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. begitulah yang saya alami. tuhan telah memberikan begitu banyak pelajaran yang menempa jiwa, pikiran dan hati saya menjadi manusia yang baru. manusia yang siap menghadapi segalam macam kehidupan. dan tuhan juga telah memberikan banyak nikmat untuk saya. di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, senua butuh kerja keras, dan kesuksesan selalu diraih dengan kerja keras dan sedikit air mata. begitulah seharusnya

Senin, 20 Desember 2010

lelah

waktunya memadamkan bara

mengistirahatkan jiwa ke dalam hangatnya pelukan malam


aku merindukan kesederhanaanmu,

senyum mesra yang merekah dalam kesunyian malam


dan saat sang fajar menyapaku nanti

aku tahu hangatnya embun pagilah yang menentramkan hatiku


hujan kali ini...

aku masih mengenangmu.

membuatku selalu mengingat pada satu rindu...

for my lovely: atika pramiardani

tulisan ini saya dedikasikan untuk kakak tercinta saya, yang selalu saya rindukan dan selalu menemani saya baik dalam suka, duka, susah, senang, tawa dan tangis saya. dengan dirinya akan selalu ada hal menyenangkan yang kami lakukan. mulai dari hal konyol sampai hal yang mengesankan. bersama dirinya, suasana keluarga menjadi begitu ramai, riuh rendah suara tawa.

dia selalu berkata kepada saya, bahwa hidup itu harus bersabar, kadang memang kita ada dibawah dan esok mungkin akan berada diatas. mungkin benar sekarang sedang merasakan kesengsaraan tapi yakinlah esok kesuksesan akan ada dalam genggaman kita. begitulah yang selaku ia katakan untuk menyemangati saya saat saya berada dalam situasi yang kurang menyenangkan. kami berdua tumbuh bersama, dewasa bersama, karena kami sama-sama melalui banyak masa sulit dan kepahitan hidup. kami berdua selalu saling menopang. ketika salah satu dari kami merasakan kepedihan, yang lain pun akan merasakan hal yang sama. sekuat tenaga akan menghibur dan meringankan kepedihan yang lainnya.

dia, adalah seorang wanita yang kuat. wanita yang tak akan pernah menyerah pada keadaan tersulit sekalipun. kadang memang kami saling mengeluh satu sama lain, namun kami tahu bahwa kami sedang saling menguatkan.

kini dia sedang bersiap menghadapi hidup yang sebenarnya. sedang mempersiapkan segala hal untuk menghadapi dunia. mengasah instingnya, menajamkan senjata dan mengasah pikirannya untuk menghadapi hari esok yang mungkin akan lebih berat.dan saya yakin, dia akan selalu mampu menghadapi dunia ini.

mari berjuang my lovely sister... we'll always loving you.

grow up

tahun 2010 hampir berlalu. setiap detiknya akan meninggalkan bekas dan pelajaran berharga bagi saya. setahun yang berat, penuh dengan peluh dan air mata. tangisan dan tawa juga silih berganti datang mewarnai hari saya.

suka, duka, pengkhianatan, hujatan dan segala peristiwa selama satu tahun ini begitu membekas menggores jiwa saya. dengan menjalani berbagai macam peristiwa pahit maupun menyenangkan ini, membuat saya menjadi semakin lebih mengerti. mengerti bahwa memberi lebih baik daripada menerima. ikhlas adalah jalan terbaik untuk mencapai ketenangan hidup, ridho adalah salah satu cara menjauhkan diri dari kemarahan dan dendam. menangis tidaklah menyelesaikan masalah, dengan kesabaran dan perjuangan membuat kita semakin menjadi jiwa yang kuat. bermurah hati dalam segala menjadikan jiwa kita menjadi semakin kaya. dan memaafkan setiap kesalahan yang tejadi ataupun yang pernah kita lakukan adalah hal terbaik yang telah dilakukan. tanpa memaafkan, mungkin diri kita akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan.

tahun 2010 sebentar lagi usai...
berbagai kisah yang telah kita lalui akan terbingkai dan terpatri dalam hati, pikiran dan jiwa kita. membuat kita menjadi semakin matang dalam bersikap, bertutur kata dan berpikir. disinilah letak perbedaan orang-seorang. mampukah di akhir tahun ini kita kembali merefleksikan segala yang telah kita lalui tahun ini?

Minggu, 19 Desember 2010

hidup itu kerja keras gan!!


hidup itu kerja keras gan!!!

menurut saya sih begitu adanya. coba sekarang kita pikir-pikir, ingat-ingat dan renungkan baik-baik, seberapa banyak perjuangan kita seumur hidup kita ini? lebih banyak berjuangkah atau lebih banyak bersenang-senang?. mungkin akan ada sebagian orang mengatakan lebih banyak bersenang-senang. what everlah..itu persepsi masing-masing pihak. namun bagi saya hidup adalah kerja keras. karena memang begitu adanya.

sampai saat ini telah banyak air mata dan luka yang saya rasakan. bukan berarti saya ini cengeng dan melankolis. bukan. karena memang kesuksesan harus diiringin dengan sedikit airmata dan luka. seperti halnya seekor raja hutan. begitu banyaknya singa dalam sekawanannya, pasti hanya akan ada satu saja yang menjadi pemimpinnya. semua itu karena si singa berjuang lebih keras daripada yang lain. lebih banyak bertarung dengan dunianya, lebih banyak terluka dan lebih banyak berhadapan dengan bahaya. begitu pula manusia.

benar adanya jika saat ini kita merasa dibawah, teraniaya, terhujad atau perasaan negatif lainnya dan juga posisi lainnya yang kita ras dan pikir tidak mengenakkan. tapi perjuangan itu perlu. walaupun telah habis seluruh daya dan upaya kita, telah terluka banyak, dan telah habis semua senjata yang kita miliki, kita masih wajib berjuang dan bekerja keras. mengasah segala indera kita, menajamkan segala insting, dan memperkaya ilmu kita untuk menghadapi dunia di esok hari.

sungguh, dunia tidak akan pernah berhenti. kaki juga tidak akan pernah berhenti berpijak, waktu akan terus berputar. semua itu akan membawa kita pada titik yang berbeda-beda. ada sebbaian orang yang menjadi semakin miskin, namun ada pula sebagian yang menjadi kaya dan pandai. dunia ini adil, bahwa yang buruk akan selalu terlihat buruk begitu pula sebaliknya. tak ada yang tak mungkin didunia ini. semua menjadi nyata ketika kita memiliki mimpi dan bekerja keras meraihnya.

seperti kata Arai dalam Sang Pemimpi "selain mimpi, kita ini punya apa lagi..maka bermimpilah boy!!'

Sabtu, 18 Desember 2010

Ini adalah kesan saya ketika microteaching di Bianglala..


Saya terkesan dengan keceriaan dan keramahan para guru dan anak-anak disana.

Betapa berkesannya ketika saya juga ikut merayakan ulang tahun Nadia, bernyanyi bersama, potong kue dan makan kue bersama.


Saya juga tak dapat melupakan kesan saya terhadap Anang, yang begitu beraninya menghampiri saya, mengajak saya bersalaman, memanggil saya bunda, dan bercerita berbagai hal dengan Anang.


Saya juga masih begitu ingat tampang polos Aurel. Anak manis yang masih sedikit bergantung pada keberadaan orang dewasa. Yang masih agak takut-takut dengan orang asing. Namun begitu polosnya gadis cilik ini.


Saya masih saja terkesan dengan senyum manis Radit, celetukan-celetukan lucunya dan senyuman manisnya kepada saya. Anak mungkil yang tampan sekaligus gendut dan lucu ini begitu menarik perhatian saya. Begitu menggemaskan dan mencuri hati saya.


Saya selalu teringat kebadingan Atar dan Zanah. Dua anak usil yang selalu badung, saling menjambak, saling mengusili dan saling berebutan mainan. Tapi mereka tetap anak-anak yang manis untuk saya.


Dan masih banyak lagi kesan hangat yang saya dapatkan dari pengalaman microteaching ini. Saya begitu terkesan dengan sambutan yang mereka berikan. Saya benar-benar sangat berharap dapat bertemu dengan mereka semua lagi.

murbei is blackberry

Kalau tulisan saya kali ini benar-benar tentang pengalaman masa kecil saya.

Dulu, waktu saya masih kecil, bias dibilang sangat bandel. Suka sekali bermain ke kebun, sawah, sungai dan tempat-tempat lainnya. Bukan hanya sekedar bermain, saya dan teman-teman saya suka sekali mencoba buah-buahan yang kami temui di kebun. Kadang kami memetik buah jambu monyet, duwet, kesemek, sawo kecik, jambu biji, ciplukan, dan murbei. Nah yang terakhir inilah yang akhir-akhir ini berkesan untuk saya.


MURBEI.

Bentuknya yang kecil, imut-imut (seperti saya), manis dan berwarna ungu kehitaman ketika sudah masak dan berasa masam berwarna merah ketika masih muda. Pohonnya kecil seperti pohon tanaman hias. Daunnya (katanya) digunakan untuk makanan ulat sutera. Dulu, dikebun belakang rumah saya ada begitu banyak pohon murbei. Dan buah inilah yang selalu menjadi favorit saya dan teman-teman saya karena bentuk dan rasanya yang manis dan unik. Namun sekarang, pohon buah ini mulai langka, saya tidak lagi dapat menjumpai pohon ini dikebun belakang rumah maupun kebun teman-teman saya. Akibatnya, kami juga sudah tidak dapat lagi menikmati buahnya.


Nah, mulai tahun 2000-an, booming yang namanya Blackberry. Salah satu merek smartphone yang juga menjadi favorit seluruh umat di Indonesia. Bukan handphone-nya yang menarik perhatian saya, namun kata Blackberry-nyalah yang menggelitik rasa ingin tahu saya. Usut punya usut, ternyata blackberry adalah salah satu jenis buah yang tergolong dalam jenis berry. Sebenarnya ada banyak buah yang tergolong dari ras berry, ada blueberry, raspberry, blackberry, dan lain-lain.


Blackberry,

Ternyata anatomi buahnya persis dan sama dengan buah murbei. Bentuk, warna dan ukurannya pun sama. Saya sempat tercengang ketika mengetahui kalau murbey adalah blackberry. Karena rasa tak percaya ini, saya mengkonfirmasikan hal ini kepada teman saya. Dan ternyata benar, blackberry adalah murbei. Spontan saya ingat bagaimana saya menikmati makan buah ini semasa kecil. Begitu enak dan manis.


Sekarang,

Entah dimana keberadaan pohon-pohon buah itu didesa saya. Mungkin karena kami ini orang awam, yang kurang tahu berbagai jenis buah yang bermanfaat sehingga dikira ilalang atau pohon tak bermanfaat. Andai saja masih ada satu pohon yang hidup di desa kami, mungkin anak-anak kecil sekarang ini bisa juga menikmati murbey yang juga blackberry. Ternyata, pengalaman masa kecil bisa menambah kekayaan pengetahuan kita, walau tanpa kita sadari secara langsung.

saya memang muslim

Saya memang muslim,

Entah mengapa begitu jengah melihat tingkah pola para tokoh agama bertindak diluar kewajaran.


Saya memang muslim,

Tapi juga kecewa dengan konflik berkepanjangan yang mengatasnamakan Tuhan.

(Ingat pemboman gereja tahun 2000, konflik Poso, dll).


Saya ini memang muslim,

Yang bingung dengan menjamurnya peraturan-peraturan daerah yang berdasarkan syariat.


Saya adalah Islam,

Tapi sekaligus tertegun mendengar berbagai pernyataan bahwa Islam adalah agama PALING BENAR.


Saya memang Islam,

Namun saya selalu berpikir dan berkeyakinan bahwa Tuhan disebut dengan berbagai nama dan disembah dengan berbagai cara di seluruh penjuru dunia ini.


Saya memang beragama islam,

Tetapi saya sering berfikir tak ada agama yang tak mengajarkan kebaikan. Bahwa baik, buruk, kesopanan ataupun kesantunan, bukanlah ditentukan oleh agama yang dianut, Barat ataupun Timur, tapi dari hati dan pribadi masing-masing individu.


Saya memang muslim dan islam,

Yang selalu berfikir, Tuhan tidaklah membutuhkan pembelaan ataupun pembenaran dari umatNya. Yang selalu meyakini bahwa Tuhan hanya menginginkan seluruh umatNya, menyembah dengan tulus dan iklas.


Saya adalah muslim,

Yang selalu mengharapkan adanya perdamaian dunia, keselarasan hidup, dan hidup berdampingan tanpa adanya konflik antar umat beragama di dunia ini.

ada apa dengan negeri ini?


rame...rame...rame..

panas...panas...panas...


bagitulah yang terjadi akhir-akhir ini. negeri ini menjadi terasa asing olehku. ada apa dengan para penghuni negeri ini? mengapa akhir-akhir ini begitu gampang mengumbar kemarahan, mudahnya meneriakkan kekesalan, dan begitu mulusnya meluncurkan kata-kata kasar untuk saling menghina dan menjatuhkan. ada apa dengan negeri ini?


terlabih akhir-akhir ini hubungan jogja vs pemerintah vs DPR semakin memanas. lihat saja bagaimana kata-kata Mendagri yang meluncur dengan begitu entengnya, kemudian sikap dan perkataan para wakil rakyat yang bersidang meminta turun Mendagri dari podium saat menyerahkan draf RUUK DIY, reaksi dan perkataan para elite politik dan kaum cendekia yang kadang terasa pedas dan menyakitkan. tidak sadarkah mereka bahwa dengan begitu suasana menjadi semakin memanas dan tak menentu. tidak ingatkah mereka bahwa apa yang diucap dan dilakukan adalah cermin dari pribadi bangsa ini. bahwa seluruh tindak tanduk, tingkah polah dan tutur kata mereka merupakan contoh nyata bagi seluruh rakyat negeri ini. bagaimana sikap rakyat negeri ini jika para elite politik dan pejabat negara ini bersikap begitu arogan, kasar dan tidak mengindahkan nilai-nilai lagi. dimana hilangnya kepribadian bangsa ini? apakah benar telah tergerus oleh arus teknologi yang maju dengan begitu pesat, ataukah memang karena efek dari demokrasi yang kebablasan, sehingga melupakan nurani dan etika bangsa sendiri.


saya juga tidak dapat menyalahkan secara sepihak saja segala kesalahan tersebut kepada pemerintah dan elit politik negeri ini. mungkin saja rakyat negeri ini juga memiliki andil dalam hal ini. mungkin juga rakyat negeri ini juga mulai mudah tersulut kemarahannya. mulai merasa muak dengan keadaan hidupnya. mulai tidak mampu lagi menahan segala gejolak yang terjadi di negara ini. dengan kata lain rakyat negara ini mulai kehabisan kesabarannya. mungkin benar pepatah mengatakan bahwa kesabaran seseorang memiliki batas. hal ini mungkin juga menimpa warga negara ini khususnya warga masyarakat jogjakarta.


seumur hidup saya, selama saya tinggal di jogjakarta, saya belum pernah melihat warga jogja begitu geram dan melakukan aksi besar-besaran seperti yang terjadi pada saat sidang paripurna DPRD di kawasan malioboro beberapa waktu yang lalu. boleh diingat, ketika terjadi reformasi tahun 98, pada saat krisis moneter yang menyebabkan kekacauan di berbagai dimensi negeri ini, sedikit sekali atau bahkan tidak ada sama sekali aksi-aksi yang dilakukan warga jogjakarta. mereka lebih banyak bersikap diam dan tenang. namun kini, mungkin rakyat jogja tekah terusik ketenangan dan kenyamanannya.


benar ketika isu penetapan dan atau pemilihan guberniur jogjakarta digulirkan pemerintah pusat, reaksi beragam langsung saja muncul, dan reaksi kontra langsung ditunjukkan oleh sebagian besar warga jogja. sekali lagi saya tekankan SEBAGIAN BESAR. mungkin benar bahwa pemerintah pusat menginginkan kemajuan bagi jogjakarta, dengan salah satu caranya yakni pemilihan gubernur jogjakarta. namun pemilihan saja tdaklah cukup. saya bukannya ingin menunjukan sikap memilih salah satu pihak dalam hal ini. saya lebih suka mensharingkan unek-unek saya mengenai hal ini.


sebenarnya tidak ada yang salah antara penetapan dengan pemilihan. yang saya sesalkan adalah berbagai pihak terkesan begitu reaktif dan emosional menanggapi fenomena ini. sebut saja komentar Mendagri terhadap aksi warga jogja saat sidang DPRD, reaksi Ruhut yang dilansir dalam Merdeka Online, serta reaksi banyak pihak lainnya yang terkesan semakin memperkeruh dan membakar suasana saja. saya tak menyalahkan mereka, karena berpendapat adalah hak setiap warga negara, namun alangkah tidak bijaksananya ketika kita berpendapat tanda memperhatikan apa yang akan kita katakan dan tanpa menganalisis situasi dan kondisi saat itu. yah, nasi sudah menjadi bubur, dan mungkin banyak pihak yang kecewa dengan sikap-sikap seperti ini, termasuk saya ini.


bagi saya, sebenarnya semua ini bukan berpatok atau berpusat bagaimana pemilihan gubernur ini dilakukan. bukan pada penetapan ataupun pada pemilihan. saya lebih suka melihat semua ini pada nilai history jogjakarta serta kontrak moral bangsa ini terhadap jogjakarta. benar adanya ketika kita ingin memajukan diri, tak bolehlah terikatpada sejarah, namun apakah kita akan menjadi sepicik itu dengan menghilangkan kontrak moral para pendiri bangsa ini. saya melihat, tuntutan warga jogja akan penetapan sri sultan dan paduka pakualan sebagai gubernur dan wakil gubernur bukan semata karena keistimewaan jogja saja, tapi lebih kepada rasa moral serta kesetiaan terhadap rajanya, yang telah menjaga dan memerintah jogjakarta dengan damai. sejarah memang tinggallah sejarah, tapi apakah kita akan menjadi manusia yang melupakan sejarah. menjadi bangsa yang picik dengan meniadakan sejarah. menjadi bangsa yang arogan dengan mengkhianati kontrak moral para pendiri kita? bangsa ini terlalu bermartabat untuk melakukan semua itu. kita adalah bangsa yang bernurani, bangsa yang menghargai para pendirinya.


sekali lagi, ini semua sesungguhnya bukan semata tentang keistimewaan jogjakarta, namun tentang bagaimana bangsa ini menghargai sejarahnya, bangsa ini menghargai para pendirinya, dan bagaimana sikap moral bangsa ini terhadap sejarahnya. esok, kita akan mendapatkan jawabannya. apakah bangsa ini adalah bangsa yang arif, bijaksana dan menghargai sejarah ataukah bangsa yang arogan, angkuh dan sombong. waktu akan membuktikannya, kita tunggu saja.