Kali ini aku mencoba merenungi kejadian yang beruntut menimpaku. Mulai dari permasalahan keluarga sampai masalah pribadiku yang bergiliran menghantui hari-hariku. Semua semakin menekan psikisku dan menyerap seluruh daya hidupku hingga sampai pada titik terendahnya. Aku pun menjadi lemah tak berdaya lagi. Daya juangku pun terasa lenyap begitu saja. Menghilang entah kemana. Dan ketika membayangkan masih begitu panjangnya sisa perjuangan yang harus ku selesaikan, aku menjadi begitu enggan menapak lagi. Seketika itu juga aku berfikir, mungkin saja daya juangku telah mati secara otomatis. Entahlah, berpikir kesekian kali pun tetap tak dapat ku temukan alasanku enggan berjuang kembali. Mungkin benar insting Tanathos sedang menguasai diri ku saat ini. Insting destruktif dan negative dimana daya hidup benar-benar sedang berada dalam kondisi mendekati nol. Keinginan berjuang, bertahan hidup dan mempertahankan keadaan yang menurun drastis. Inilah kenapa aku sebut diriku sedang dikuasai insting tanathos ini.
Keadaan seperti ini bukannya tanpa sebab. Terlalu banyak factor yang tak dapat diuraikan satu persatu. Keadaan ini bisa saja dikarenakan kalkulasi masalah-masalah yang beruntun menerjangku. Perasaan tak dihargai, rasa kecewa yang berkepanjangan, dan sikap egoistic berbagai pihak lainnya yang mungkin saja juga menjadi pemicu semakin menurunnya kondisi psikisku saat ini. Keadaan harus selalu mempertahankan logika dan mengesampingkan perasaan dan keinginan diri sendiri juga semakin memperpuruk pertahanan diriku. aku sendiri pun menjadi tak mengerti dengan gejolak perasaan yang ada dalam diriku. entah bahagia, entah sedih, entah cinta, entah dendam, entah memaafkan dan entah itu kecewa, semua tak dapat kudefinisikan dengan pasti, yang tersisa hanyalah seperti memandang sebuah fatamorgana, rasanya semu dan dingin. Mungkin aku juga telah mati rasa. Bukan, mungkin tepatnya aku sengaja mematikan rasaku, agar aku tak terluka lebih jauh dan dalam karena keadaan ini. Yah, itulah yang aku takutkan. Aku takut terluka dan menjadi tak berarti.
Dan saat aku melihat butiran air hujan yang menghujam ke tanah sore ini, aku merasakan kegetiran yang teramat dalam bersemayam di hatiku. Rasanya bak tersayat-sayat pisau tajam, menghujam ke dalam jiwaku. Siapa yang peduli dengan perih yang aku rasakan ini? Tidak ada seorangpun. Setiap mata yang memandang tidak akan peduli dengan hancurnya perasaan, yang mereka mau mengerti adalah kekuatan dan kesabaran menghadapi semuanya. Yang mereka lihat adalah raga yang terlihat tegar dan kuat. Yang mereka inginkan adalah senyuman yang selalu menghiasi wajah. Bukan ingin mengerti rasa perih dan kecewa yang terasa. Dan bukan ingin memahami setiap inginnya hati yang ada. Jadi, salahkah aku merindukan dekapan hangat kebahagiaan tanpa ada rasa perih dan kekecewaan didalamnya. Entahlah, memahami sebuah kehidupan ternyata begitu sulitnya. Mengharapkan uluran tangan sang malaikat laksana seperti mimpi indah. Dan semua kini terasa begitu samar. Kini, tak berarti lagi apa yang aku rasakan, tak berharga lagi apa yang aku korbankan, yang terpenting adalah terbukanya semua simpul kehidupan ini. Karena aku telah begitu lelah merasa dan menapak. Aku begitu merindukan kebahagiaan yang telah berlalu itu. Kemudian aku menatap langit yang mulai menguning dari balik jendela kamarku, dan seketika itu aku menyadari bahwa aku telah benar-benar menyerah dalam kepasrahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar