the chef

Foto saya
yogyakarta, Indonesia
ehmmm....uhmmmm....erggghhh.....(rethinking)...

Selasa, 31 Agustus 2010

aku merlihat dia menggali kuburan untuk masa lalunya...tapi aku masih saja sangsi dengan kebenarannya..semoga kuburan itu tak ia gali kembali untuk menguburku bersama masa lalunya yang lain...

Senin, 30 Agustus 2010

i know what you did...

beberapa hari terakhir ini setiap kali saya membuka fesbuk (facebook.red), banyak status tentang puasa, lebaran, baju baru dan malaysia vs indonesia. sebenarnya sedikit membosankan, momen yang sedang 'in' memang itu-itu saja. bukannya saya tidak memiliki rasa nasionalisme terhadap indonesia ataupun rasa tertarik terhadap peristiwa-peristiwa tersebut. alasan saya cukup simple, saya tidak ingin berkoar-koar masalah yang sebenarnya saya sendiri tidak begitu memahami ujung pangkalnya. saya juga bukan seorang ahli politik, tata negara, hukum ataupun seorang ahli teritori wilayah suatu negara, sehingga saya mampu memberikan pendapat saya yang kebenarannya sendiri saya sangsikan. saya hanya mencoba menjadi seseorang yang percaya sepenuhnya pada kepiawaian para pemegang pemerintahan negara ini. toh mereka adalah orang-orang cendekia dengan keahlian yang mumpuni dibidangnya. jadi buat apa saya banyak bicara dan bertingkah sok tahu, padahal pada dasarnya tidak ada yang dapat dilakukan oleh diri saya. toh saya hanya bisa mengikuti pemberitaannya saja.

namun semalam saya dan teman saya sempat iseng smsan mengutuki malaysia dan indonesia. bukan karena kami kesal atau marah, hanya sebagai pelampiasan penat kami seharian beraktivitas diluar rumah dengan harapan pikliran kami menjadi lebih segar kembali. kira-kira begini kronologisnya :

pukul : 04.35 sore
dia (untuk teman saya) dan aku (untuk saya)

dia : org2 malay itu nginjek sumatra aja bakal kena bombardril. dbuang k laut lepas lgsg
04.35 sore

aku : nginjek jawa ceburin ke gunung merapi ato bawa ke lapindo buat sumpel..xixixxi..
04.00 sore

dia : hajar aj jwa2 malingsia gt.dajakn perang aj,biar kapok.pddk kta lbh byk,krahkan org sampit, madura, palembang, ambon papua.mnta digayang bener. stop nonton upin-ipin.
04.40 sore

aku : wesss...dari sabang sampe merauke dong..jangan kuliah dimalaysia..usir penduduknya dari indon..kejam.
04.45 sore

dia : ok.lmpar jg tu mhs kdokteran yg dr malay.DO dr UGM.cb ak rektory.byk yg dkt kosku srg ak plirikin kl lwt.pengeny tak cakar2,tp kl sndr takut dkroyok.wkwkwk
04.47 sore

aku : jangan..santet aja..kerahkan rian dan babe..mutilasi habis2an..ato kado gas 3 kg..
04.50 sore

dia : wkwkwkw...iy tu.kirimi gas lpj 3 kg it.dbungkus ky parsel.
04.58

aku : iy ide bagus...byk stok melon ijo siap ledak..wkwkw..
05.00 sore

................... sms tidak berlanjut karena azan magrib tiba. mungkin teman saya sibuk berbuka puasa. tapi setelahnya saya menyadari ternyata banyak yang kesal dengan ulah malaysia. indonesia bak seorang suami yang melihat isterinya dicumbu seorang lelaki lain dihadapan matanya, namun sayangnya masih belum bertindak dan terkesan mendiamkan. entahlah..para pemerintah yang tahu.

Minggu, 29 Agustus 2010

untitle

dia menjaminkan hati dan perasaannya padaku...
aku mencoba membawa hati dan perasaannya ke pegadaian. siapa tahu lebaran kali ini harga hati dan perasaannya tinggi. ternyata aku kecewa, harganya tak lebih mahal dari tahun lalu. aku pulang dengan kekecewaan. terhadap pegadaian dan perasaannya. siapa yang salah. dia atau aku, atau malah si pegadaian.

aku membanting hati dan perasaannya di depan matanya. dia hanya tersenyum. aku berlalu..bukan karena hati dan perasaannya. aku berlalu dari masa lalunya.

Kamis, 26 Agustus 2010

lebaran dan tukang becaknya




Tradisi setiap lebaran yang dinantikan biasanya makan-makan, kumpul-kumpul dan bagi-bagi angpao. Hal itu sebenarnya sudah terlalu lazim untuk semua orang. Hal yang tak lazim dan selalu dinantikan di keluarga kami adalah bangun pagi buta kemudian jalan-jalan ke pasar tradisional, pasar gedhe klaten. Kondisi pasar yang kumuh dan tak jarang bau tak pernah mengurungkan niat kami untuk berpetualang didalamnya. Coba bayangkan bagaimana asyiknya jajan wedang jahe yang segelasnya cuman seribu perak, berburu gorengan dipojokan terminal atau sekedar ngantri beli gudangan bubuk pasar. Saya bahkan sampai saat ini menjadi begitu menikmati berbelanja di pasar tradisional karena selalu mengingatkan say a pada kenangan itu.
Yang namanya pasar pasti juga tak pernah lepas dari tukang angkot dan tukang becak. Awalnya memang tidak pernah ada kenangan lucu dengan yang namanya becak. Tapi gara-gara sepupu cantik saya, yang sekalinya ikutan berburu makanan di pasar berhasil menggaet salah satu tukang becak yang mangkal di samping perempatan pasar. Saya masih sangat ingat ketika itu dia memakai kaos merah dan celana merahnya. Saat dia digoda tukang becak tersebut kontan kami rame-rame teriak kegirangan. Dan kejadian itu menjadi bahan yang paling hot dibicarakan diantara kami. Kadang sepupu saya ini malu-malu ketika digoda tapi tak jarang juga sedikit jengkel dengan kami. Biasanya kalau sudah jengkel dia akan pergi ke kamar sambil membawa hape nya dan berchating ria. Puncaknya adalah ketika kami ramai-ramai membeli kaos dagadu di jogja. Karena kejadian tukang becak dipasar kami paksa dia membeli kaos dagadu berwarna merah dengan gambar becak. Diantara para pembeli kaos itu rombongan kamilah yang paling ribut. Meributkan tukang becak.
Kejadiaan itu benar-benar sudah bertahun-tahun yang lalu. Entah masih ingat tau tidak para sepupu-sepupuku itu. Dan entah masih atau tidak si kaos itu. Serta setiap kali kembali berburu makanan di pasar gedhe klaten saya selalu tersenyum geli teringat kejadian itu. Setiap tahunnya, ketika semua berkumpul selalu memberikan kenangan yang menyenangkan. Hal inilah yang selalu membuatku selalu ingin pulang dan berkumpul bersama, menghabiskan liburan bersama-sama. Saya menjadi tak sabar, hal konyol apa lagi yang akan kami dapatkan tahun ini. Mungkinkah sepupu saya itu bertemu lagi dengan sang tukang becak?? Wow..kita lihat saja esok.

hujan


Kali ini aku mencoba merenungi kejadian yang beruntut menimpaku. Mulai dari permasalahan keluarga sampai masalah pribadiku yang bergiliran menghantui hari-hariku. Semua semakin menekan psikisku dan menyerap seluruh daya hidupku hingga sampai pada titik terendahnya. Aku pun menjadi lemah tak berdaya lagi. Daya juangku pun terasa lenyap begitu saja. Menghilang entah kemana. Dan ketika membayangkan masih begitu panjangnya sisa perjuangan yang harus ku selesaikan, aku menjadi begitu enggan menapak lagi. Seketika itu juga aku berfikir, mungkin saja daya juangku telah mati secara otomatis. Entahlah, berpikir kesekian kali pun tetap tak dapat ku temukan alasanku enggan berjuang kembali. Mungkin benar insting Tanathos sedang menguasai diri ku saat ini. Insting destruktif dan negative dimana daya hidup benar-benar sedang berada dalam kondisi mendekati nol. Keinginan berjuang, bertahan hidup dan mempertahankan keadaan yang menurun drastis. Inilah kenapa aku sebut diriku sedang dikuasai insting tanathos ini.

Keadaan seperti ini bukannya tanpa sebab. Terlalu banyak factor yang tak dapat diuraikan satu persatu. Keadaan ini bisa saja dikarenakan kalkulasi masalah-masalah yang beruntun menerjangku. Perasaan tak dihargai, rasa kecewa yang berkepanjangan, dan sikap egoistic berbagai pihak lainnya yang mungkin saja juga menjadi pemicu semakin menurunnya kondisi psikisku saat ini. Keadaan harus selalu mempertahankan logika dan mengesampingkan perasaan dan keinginan diri sendiri juga semakin memperpuruk pertahanan diriku. aku sendiri pun menjadi tak mengerti dengan gejolak perasaan yang ada dalam diriku. entah bahagia, entah sedih, entah cinta, entah dendam, entah memaafkan dan entah itu kecewa, semua tak dapat kudefinisikan dengan pasti, yang tersisa hanyalah seperti memandang sebuah fatamorgana, rasanya semu dan dingin. Mungkin aku juga telah mati rasa. Bukan, mungkin tepatnya aku sengaja mematikan rasaku, agar aku tak terluka lebih jauh dan dalam karena keadaan ini. Yah, itulah yang aku takutkan. Aku takut terluka dan menjadi tak berarti.

Dan saat aku melihat butiran air hujan yang menghujam ke tanah sore ini, aku merasakan kegetiran yang teramat dalam bersemayam di hatiku. Rasanya bak tersayat-sayat pisau tajam, menghujam ke dalam jiwaku. Siapa yang peduli dengan perih yang aku rasakan ini? Tidak ada seorangpun. Setiap mata yang memandang tidak akan peduli dengan hancurnya perasaan, yang mereka mau mengerti adalah kekuatan dan kesabaran menghadapi semuanya. Yang mereka lihat adalah raga yang terlihat tegar dan kuat. Yang mereka inginkan adalah senyuman yang selalu menghiasi wajah. Bukan ingin mengerti rasa perih dan kecewa yang terasa. Dan bukan ingin memahami setiap inginnya hati yang ada. Jadi, salahkah aku merindukan dekapan hangat kebahagiaan tanpa ada rasa perih dan kekecewaan didalamnya. Entahlah, memahami sebuah kehidupan ternyata begitu sulitnya. Mengharapkan uluran tangan sang malaikat laksana seperti mimpi indah. Dan semua kini terasa begitu samar. Kini, tak berarti lagi apa yang aku rasakan, tak berharga lagi apa yang aku korbankan, yang terpenting adalah terbukanya semua simpul kehidupan ini. Karena aku telah begitu lelah merasa dan menapak. Aku begitu merindukan kebahagiaan yang telah berlalu itu. Kemudian aku menatap langit yang mulai menguning dari balik jendela kamarku, dan seketika itu aku menyadari bahwa aku telah benar-benar menyerah dalam kepasrahan.