Keseringan menemani seorang teman dekat ngobrol sambil minum kopi, membuat saya penasaran dengan rasa kopi (jujur saja saya termasuk orang yang tidak pernah ngopi sebelumnya). Kemudian iseng – iseng saya mencicipi seteguk kopi dari cangkir teman akrab saya tersebut. PAHIT, hanya kata itu yang langsung keluar dari mulut saya. Walaupun kopi yang disuguhkan itu perpaduan antara kopi, susu, serta gula yang pas, yang seharusnya muncul citarasa manis, tetap saja terasa pahit dilidah saya.
Mencicipi kopi tidak lantas membuat rasa penasaran saya terbayar. Selidik punya selidik, ternyata ada filosofi tersendiri dari kopi tersebut (salah seorang Barista kopi memaparkannya dalam sebuah buku).
Untuk Cappuccino misalnya, kopi ini ditujukan bagi mereka yang menyukai kelembutan sekaligus keindahan. Cara membuatnya pun membutuhkan keahlian khusus tingkat tinggi. Sedangkan kopi tubruk, yang menurut saya rasa pahitnya sanggup mengalahkan obat dari dokter, mempunyai filosofi lugu, sederhana, apa adanya, walau terlihat kasar tetapi aroma yang dihasilkan hmmm….harum khas kopi (saya mencoba membuat kopi tubruk hanya untuk merasakan aroma kopinya, ternyata harum aromanya tak kalah dengan aroma seduhan teh).
Walaupun telah mengetahui sedikit filosofi kopi tersebut, tak juga menuntaskan rasa ingin tahu saya akan kenikmatan secangkir kopi. Bahkan sampai saat ini, saya masih saja tidak mengerti dimana letak kenikmatan kopi. Apa sebenarnya yang membuat seseorang begitu kecanduan kopi?. Alasan yang tepat atas ketidakmengertian saya ini adalah mungkin karena saya bukanlah seorang penggemar kopi, jadi tidak memahami betul letak kenikmatan secangkir kopi.
Menurut saya, kopi hanyalah kopi. Yang selalu ada ketika saya dan teman dekat saya ngobrol. Yang selalu diminum oleh bapak saya tiap pagi dan sore hari. Yang bagaimanapun penyajiannya dan apapun campurannya, setahu saya akan tetap terasa pahit dengan aroma yang harum ketika diseduh.
Bagi saya, yang penting saya tahu cara menyajikan kopi. Menyeduh sesacet kopi instant ke dalam secangkir air panas, atau tiga sendok teh kopi hitam dengan dua sendok teh gula ke dalam secangkir air panas, sudah cukup bagi saya. Tak perlu memahami filosofi didalamnya ataupun memiliki kemampuan menyajikan kopi tingkat tinggi. Karena tetap saja, kopi hanyalah kopi. Dan memang begitu seharusnya secangkir kopi disajikan. Hangat atau panas dengan aroma wangi yang khas, seperti sebuah kehidupan pahit tapi tetap ada aroma wangi dan kehangatan di dalamnya.
Mencicipi kopi tidak lantas membuat rasa penasaran saya terbayar. Selidik punya selidik, ternyata ada filosofi tersendiri dari kopi tersebut (salah seorang Barista kopi memaparkannya dalam sebuah buku).
Untuk Cappuccino misalnya, kopi ini ditujukan bagi mereka yang menyukai kelembutan sekaligus keindahan. Cara membuatnya pun membutuhkan keahlian khusus tingkat tinggi. Sedangkan kopi tubruk, yang menurut saya rasa pahitnya sanggup mengalahkan obat dari dokter, mempunyai filosofi lugu, sederhana, apa adanya, walau terlihat kasar tetapi aroma yang dihasilkan hmmm….harum khas kopi (saya mencoba membuat kopi tubruk hanya untuk merasakan aroma kopinya, ternyata harum aromanya tak kalah dengan aroma seduhan teh).
Walaupun telah mengetahui sedikit filosofi kopi tersebut, tak juga menuntaskan rasa ingin tahu saya akan kenikmatan secangkir kopi. Bahkan sampai saat ini, saya masih saja tidak mengerti dimana letak kenikmatan kopi. Apa sebenarnya yang membuat seseorang begitu kecanduan kopi?. Alasan yang tepat atas ketidakmengertian saya ini adalah mungkin karena saya bukanlah seorang penggemar kopi, jadi tidak memahami betul letak kenikmatan secangkir kopi.
Menurut saya, kopi hanyalah kopi. Yang selalu ada ketika saya dan teman dekat saya ngobrol. Yang selalu diminum oleh bapak saya tiap pagi dan sore hari. Yang bagaimanapun penyajiannya dan apapun campurannya, setahu saya akan tetap terasa pahit dengan aroma yang harum ketika diseduh.
Bagi saya, yang penting saya tahu cara menyajikan kopi. Menyeduh sesacet kopi instant ke dalam secangkir air panas, atau tiga sendok teh kopi hitam dengan dua sendok teh gula ke dalam secangkir air panas, sudah cukup bagi saya. Tak perlu memahami filosofi didalamnya ataupun memiliki kemampuan menyajikan kopi tingkat tinggi. Karena tetap saja, kopi hanyalah kopi. Dan memang begitu seharusnya secangkir kopi disajikan. Hangat atau panas dengan aroma wangi yang khas, seperti sebuah kehidupan pahit tapi tetap ada aroma wangi dan kehangatan di dalamnya.
aku juga tak begitu gempita menghirup kopi. sepekat dan selembut apapun ia menguarkan aroma. dan suatu senja segalanya berubah. aku harus memasak sendiri biji-biji kopi yang kupetik dan kufermentasi dari kebun benakku. kutumbuk perlahan dengan hasrat tertahan. kuseduh pelan dengan mata setengah terpejam. ya. malam itu aku harus terjaga untuk waktu yang lama : menanti matahari esok pagi. kami janjian akan bersua sehari sebelumnya..
BalasHapus