
aku berjalan jauh. jauh keujung pengharapanku yang entah masih dapat kuraih atau hanya sekedar akan menjadi bayang ilusi saja. lamunanku semakin menjauh dibuai semilir angin sore. rambut panjangku pun menari-nari seolah ikut menikmati buaian sang angin. mataku masih menerawang jauh membawa pikiranku terus mengembara. entah apa yang kupikitkan saat itu aku sungguh tak tahu pasti. hanya perasaan ingin menikmati keindahajan alam persawahan dengan lembayung senjanya saja.
namun lamunanku terbuyarkan dengan kedatangannya. entah dari arah mana dia muncul aku tak terlalu memperhatikan. yang kulihat hanyalah lambaian tangan dan senyumannya dari kejauhan. aku sendiri masih ragu untuk membalas lambaian tangannya. dia mendekatiku lantas mendudukan dirinya disampingku. "aku temani kamu menikmati senja kali ini ya" bisiknya kepadaku seraya tersenyum lembut. ku balas dengan anggukan kepala. aku masih bertanya-tanya angin apa yang membawanya kearea persawahan sore itu, atau ada suatu alasan kuat yang sengaja menuntunnya untuk menghampiriku saat itu. sesungguhnya berbagai pertannyaan menari-nari di benakku, tapi mulutku tetap enggan menyapanya. enggan menyapa bekas kekasihku ini.
kulihat dia berusaha membuka percakapan denganku. banyak hal yang dia ceritakan. mulai dari karirnya yang begitu menanjak selama dua tahun ini sampai betapa sepi hatinya setelah kepergianku. aku masih belum bergeming. masih dalam kebisuanku. namun tak dapat kupungkiri aku mencermati setiap tuturnya. kata demi kata terus meluncur dari bibirnya. mengenang kisah romantis yang pernah kami lalui. "betapa aku merindukanmu" kalimat itu meluncur begitu mudah dari mulutnya namun terasa menyayat ego ku ketika itu. aku hanya melemparkan senyumku kepadanya. entah berasa banyak kosa kata yang telah dia persiapkan karena telah beribu-ribu kalimat yang mengalir deras dari mulutnya, sampai akhirnya dia mengakhiri perkataannya dengan sebuah pertanyaan singkat namun menohok ku "maukah kau menjadi isteri kedua ku, aku masih begitu mencintaimu" spontan aku menoleh kearahnya. dengan menahan segala kemarahan yang hampir meledak aku meraih tangannya kemudian ku genggam erat sambil berkata "kembalilah, isterimu menunggumu. aku telah menemukan duniaku sekarang jadi pulanglah". aku pun beranjak dari sisinya,meninggalkannya termenung di tempat itu. aku masih dapat merasakan tatapannya yang terasa begitu menusuk punggungku. namun aku tak bisa menghentikan langkahku. aku terus berjalan kemudian meraih tangan kekasihku saat ini. ku genggam erat tangan kekasihku ini dan terus berjalan beriringan dengan lembayung senja sebagai saksi sore itu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar