Lambat laun kesadaranku pun mulai menghilang digantikan dengan alterku lain yang juga bersemayam dalam raga ini. Sudah seminggu ini aku sering mengalami keadaan ‘switch’ semacam ini. Dan setiap kali alterku ini muncul aku menjadi lumpuh dan tak berdaya, hanya indera penglihatanku yang masih berfungsi sempurna, selebihnya, macet total. Akupun semakin khawatir dengan keadaanku, mungkinkah penyakitku ini semakin memarah seiring berjalannya waktu?
Alterku masih menguasai raga kami. Dia menghampiri lelaki yang sangat aku cintai. Lelaki yang telah membagi hidupnya bersamaku selama 6 tahun ini. Lelaki yang juga dicintai oleh alterku. Aku dapat merasakannya. Merasakan perasaan alterku kepada lelaki ini. Perasaan yang sama kuatnya dengan ku. Itulah hal yang serupa dari kami, karena selebihnya kami memang sangat bertolak belakang. Baik sifat maupun selera. Lelaki ini duduk disebuah bangku pojokan ruangan. Dia mengenakan kemeja merah marun kesukaan kami. Seperti biasa dia melemparkan senyuman hangatnya kepada kami. Kami, tepatnya alterku, mendekatinya. Dia pun mendekat, menghampiri kami, memeluk kami dan mengecup singkat bibir kami. Sebenarnya aku cemburu. Aku iri karena alterkulah yang menguasai raga ini, bukan aku. Aku cemburu karena alterkulah yang dapat menyentuhnya, sedangkan aku hanya mampu melihatnya.
Kami melihat keluar, hujan deras menghujam, membelah udara disekitar menjadi begitu dingin menyayat kulit. Tampaknya dia mengerti kegundahan kami, dibelainya rambut kami dan berkatalah dia pada kami “tak apa-apa sayang.” Sambil tersenyum lembut pada kami. Kami menikmati harum tubuhnya. Parfum khasnya bercampur asap rokok adalah bau khas dia. Kami menikmati tatapan hangatnya. Seperti biasanya, dia mulai berceloteh. Menceritakan berbagai hal pada kami. Suaranya membuai telinga kami. Lagu termerdu diduniapun bagi kami tak dapat mengalahkan kesyahduan suaranya. Hari ini dia menceritakan pertemuannya dengan malaikat kecil, menceritakan betapa murkanya Tuhan pada manusia, juga menceritakan hal-hal lain yang tak biasa bagi seseorang. Tapi bagi kami, cerita darinya adalah hal luar biasa. Yang selalu kami ingin dengar.
Setiap hari dia selalu mengunjungi kamar kami. Kadang membawakan buah-buahan yang tak pernah kami jumpai, kadang pula ia hanya membawakan sebungkus permen buat kami. Tapi kami tak peduli dengan apa yang ia bawa. Kami selalu menantikan kedatangannya.
Namun sebulan ini dia tak mengunjungi kami. Rindu kami menjadi semakin memuncak terhadapnya. Kami menginginkan kedatangannya. Pasti dia dilarang datang oleh sekelompok orang berseragam putih diluar sana, kataku pada alterku. Dan kami meyakini itu. Kesabaran kami habis. Kami tak sanggup lagi untuk menunggu kedatangannya. Kemarahan menguasai kami. Kekesalan merajai kami. Kami pun berteriak menuntut dia dikembalikan pada kami. Tubuh kami, kami hantamkan ke dinding ruangan. Darah mengucur dari tubuh kami akibat tertimpa pecahan kaca jendela.
Tiba-tiba segerombol orang berseragam putih menghampiri kami. Mengangkat kami ke atas ranjang kemudian mengikat kaki dan tangan kami dengan tali. Salah satu dari mereka menyuntikan cairan kedalam tubuh kami. Seketika tubuh kami menjadi tenang. Kesadaran ku dan alterku semakin menurun. Dalam ketidaksadaranku itu, sesaat aku tersadar bahwa sesungguhnya aku telah kehilangan dia dan seluruh kewarasanku bersama dengan kematiannya lima tahun yang lalu. semakin lama kesadaranku pun hilang, mataku pun perlahan terrpejam dan samar aku melihatnya tersenyum kepadaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar