the chef

Foto saya
yogyakarta, Indonesia
ehmmm....uhmmmm....erggghhh.....(rethinking)...

Minggu, 04 Juli 2010

the name of coffee

Keseringan menemani seorang teman dekat ngobrol sambil minum kopi, membuat saya penasaran dengan rasa kopi (jujur saja saya termasuk orang yang tidak pernah ngopi sebelumnya). Kemudian iseng – iseng saya mencicipi seteguk kopi dari cangkir teman akrab saya tersebut. PAHIT, hanya kata itu yang langsung keluar dari mulut saya. Walaupun kopi yang disuguhkan itu perpaduan antara kopi, susu, serta gula yang pas, yang seharusnya muncul citarasa manis, tetap saja terasa pahit dilidah saya.

Mencicipi kopi tidak lantas membuat rasa penasaran saya terbayar. Selidik punya selidik, ternyata ada filosofi tersendiri dari kopi tersebut (salah seorang Barista kopi memaparkannya dalam sebuah buku).

Untuk Cappuccino misalnya, kopi ini ditujukan bagi mereka yang menyukai kelembutan sekaligus keindahan. Cara membuatnya pun membutuhkan keahlian khusus tingkat tinggi. Sedangkan kopi tubruk, yang menurut saya rasa pahitnya sanggup mengalahkan obat dari dokter, mempunyai filosofi lugu, sederhana, apa adanya, walau terlihat kasar tetapi aroma yang dihasilkan hmmm….harum khas kopi (saya mencoba membuat kopi tubruk hanya untuk merasakan aroma kopinya, ternyata harum aromanya tak kalah dengan aroma seduhan teh).

Walaupun telah mengetahui sedikit filosofi kopi tersebut, tak juga menuntaskan rasa ingin tahu saya akan kenikmatan secangkir kopi. Bahkan sampai saat ini, saya masih saja tidak mengerti dimana letak kenikmatan kopi. Apa sebenarnya yang membuat seseorang begitu kecanduan kopi?. Alasan yang tepat atas ketidakmengertian saya ini adalah mungkin karena saya bukanlah seorang penggemar kopi, jadi tidak memahami betul letak kenikmatan secangkir kopi.

Menurut saya, kopi hanyalah kopi. Yang selalu ada ketika saya dan teman dekat saya ngobrol. Yang selalu diminum oleh bapak saya tiap pagi dan sore hari. Yang bagaimanapun penyajiannya dan apapun campurannya, setahu saya akan tetap terasa pahit dengan aroma yang harum ketika diseduh.

Bagi saya, yang penting saya tahu cara menyajikan kopi. Menyeduh sesacet kopi instant ke dalam secangkir air panas, atau tiga sendok teh kopi hitam dengan dua sendok teh gula ke dalam secangkir air panas, sudah cukup bagi saya. Tak perlu memahami filosofi didalamnya ataupun memiliki kemampuan menyajikan kopi tingkat tinggi. Karena tetap saja, kopi hanyalah kopi. Dan memang begitu seharusnya secangkir kopi disajikan. Hangat atau panas dengan aroma wangi yang khas, seperti sebuah kehidupan pahit tapi tetap ada aroma wangi dan kehangatan di dalamnya.

lembayung senja


aku berjalan jauh. jauh keujung pengharapanku yang entah masih dapat kuraih atau hanya sekedar akan menjadi bayang ilusi saja. lamunanku semakin menjauh dibuai semilir angin sore. rambut panjangku pun menari-nari seolah ikut menikmati buaian sang angin. mataku masih menerawang jauh membawa pikiranku terus mengembara. entah apa yang kupikitkan saat itu aku sungguh tak tahu pasti. hanya perasaan ingin menikmati keindahajan alam persawahan dengan lembayung senjanya saja.

namun lamunanku terbuyarkan dengan kedatangannya. entah dari arah mana dia muncul aku tak terlalu memperhatikan. yang kulihat hanyalah lambaian tangan dan senyumannya dari kejauhan. aku sendiri masih ragu untuk membalas lambaian tangannya. dia mendekatiku lantas mendudukan dirinya disampingku. "aku temani kamu menikmati senja kali ini ya" bisiknya kepadaku seraya tersenyum lembut. ku balas dengan anggukan kepala. aku masih bertanya-tanya angin apa yang membawanya kearea persawahan sore itu, atau ada suatu alasan kuat yang sengaja menuntunnya untuk menghampiriku saat itu. sesungguhnya berbagai pertannyaan menari-nari di benakku, tapi mulutku tetap enggan menyapanya. enggan menyapa bekas kekasihku ini.

kulihat dia berusaha membuka percakapan denganku. banyak hal yang dia ceritakan. mulai dari karirnya yang begitu menanjak selama dua tahun ini sampai betapa sepi hatinya setelah kepergianku. aku masih belum bergeming. masih dalam kebisuanku. namun tak dapat kupungkiri aku mencermati setiap tuturnya. kata demi kata terus meluncur dari bibirnya. mengenang kisah romantis yang pernah kami lalui. "betapa aku merindukanmu" kalimat itu meluncur begitu mudah dari mulutnya namun terasa menyayat ego ku ketika itu. aku hanya melemparkan senyumku kepadanya. entah berasa banyak kosa kata yang telah dia persiapkan karena telah beribu-ribu kalimat yang mengalir deras dari mulutnya, sampai akhirnya dia mengakhiri perkataannya dengan sebuah pertanyaan singkat namun menohok ku "maukah kau menjadi isteri kedua ku, aku masih begitu mencintaimu" spontan aku menoleh kearahnya. dengan menahan segala kemarahan yang hampir meledak aku meraih tangannya kemudian ku genggam erat sambil berkata "kembalilah, isterimu menunggumu. aku telah menemukan duniaku sekarang jadi pulanglah". aku pun beranjak dari sisinya,meninggalkannya termenung di tempat itu. aku masih dapat merasakan tatapannya yang terasa begitu menusuk punggungku. namun aku tak bisa menghentikan langkahku. aku terus berjalan kemudian meraih tangan kekasihku saat ini. ku genggam erat tangan kekasihku ini dan terus berjalan beriringan dengan lembayung senja sebagai saksi sore itu

diatas normal



Lambat laun kesadaranku pun mulai menghilang digantikan dengan alterku lain yang juga bersemayam dalam raga ini. Sudah seminggu ini aku sering mengalami keadaan ‘switch’ semacam ini. Dan setiap kali alterku ini muncul aku menjadi lumpuh dan tak berdaya, hanya indera penglihatanku yang masih berfungsi sempurna, selebihnya, macet total. Akupun semakin khawatir dengan keadaanku, mungkinkah penyakitku ini semakin memarah seiring berjalannya waktu?

Alterku masih menguasai raga kami. Dia menghampiri lelaki yang sangat aku cintai. Lelaki yang telah membagi hidupnya bersamaku selama 6 tahun ini. Lelaki yang juga dicintai oleh alterku. Aku dapat merasakannya. Merasakan perasaan alterku kepada lelaki ini. Perasaan yang sama kuatnya dengan ku. Itulah hal yang serupa dari kami, karena selebihnya kami memang sangat bertolak belakang. Baik sifat maupun selera. Lelaki ini duduk disebuah bangku pojokan ruangan. Dia mengenakan kemeja merah marun kesukaan kami. Seperti biasa dia melemparkan senyuman hangatnya kepada kami. Kami, tepatnya alterku, mendekatinya. Dia pun mendekat, menghampiri kami, memeluk kami dan mengecup singkat bibir kami. Sebenarnya aku cemburu. Aku iri karena alterkulah yang menguasai raga ini, bukan aku. Aku cemburu karena alterkulah yang dapat menyentuhnya, sedangkan aku hanya mampu melihatnya.

Kami melihat keluar, hujan deras menghujam, membelah udara disekitar menjadi begitu dingin menyayat kulit. Tampaknya dia mengerti kegundahan kami, dibelainya rambut kami dan berkatalah dia pada kami “tak apa-apa sayang.” Sambil tersenyum lembut pada kami. Kami menikmati harum tubuhnya. Parfum khasnya bercampur asap rokok adalah bau khas dia. Kami menikmati tatapan hangatnya. Seperti biasanya, dia mulai berceloteh. Menceritakan berbagai hal pada kami. Suaranya membuai telinga kami. Lagu termerdu diduniapun bagi kami tak dapat mengalahkan kesyahduan suaranya. Hari ini dia menceritakan pertemuannya dengan malaikat kecil, menceritakan betapa murkanya Tuhan pada manusia, juga menceritakan hal-hal lain yang tak biasa bagi seseorang. Tapi bagi kami, cerita darinya adalah hal luar biasa. Yang selalu kami ingin dengar.

Setiap hari dia selalu mengunjungi kamar kami. Kadang membawakan buah-buahan yang tak pernah kami jumpai, kadang pula ia hanya membawakan sebungkus permen buat kami. Tapi kami tak peduli dengan apa yang ia bawa. Kami selalu menantikan kedatangannya.

Namun sebulan ini dia tak mengunjungi kami. Rindu kami menjadi semakin memuncak terhadapnya. Kami menginginkan kedatangannya. Pasti dia dilarang datang oleh sekelompok orang berseragam putih diluar sana, kataku pada alterku. Dan kami meyakini itu. Kesabaran kami habis. Kami tak sanggup lagi untuk menunggu kedatangannya. Kemarahan menguasai kami. Kekesalan merajai kami. Kami pun berteriak menuntut dia dikembalikan pada kami. Tubuh kami, kami hantamkan ke dinding ruangan. Darah mengucur dari tubuh kami akibat tertimpa pecahan kaca jendela.

Tiba-tiba segerombol orang berseragam putih menghampiri kami. Mengangkat kami ke atas ranjang kemudian mengikat kaki dan tangan kami dengan tali. Salah satu dari mereka menyuntikan cairan kedalam tubuh kami. Seketika tubuh kami menjadi tenang. Kesadaran ku dan alterku semakin menurun. Dalam ketidaksadaranku itu, sesaat aku tersadar bahwa sesungguhnya aku telah kehilangan dia dan seluruh kewarasanku bersama dengan kematiannya lima tahun yang lalu. semakin lama kesadaranku pun hilang, mataku pun perlahan terrpejam dan samar aku melihatnya tersenyum kepadaku.